Selasa, 08 November 2022

Bab 8 Sistem Regulasi - Biologi Kelas XI










Tubuh manusia terdiri atas berbagai macam alat tubuh atau  organ. Masing-masing organ memiliki fungsi tertentu dalam menunjang aktivitas tubuh. Semua aktivitas tubuh kita seperti berjalan, menggerakkan tangan, mengunyah makanan, dan lainnya, diatur dan dikendalikan oleh satu sistem yang disebut  sistem pengatur ( regulasi).  Sistem pengatur yang ada pada tubuh manusia adalah sistem saraf, sistem endokrin, dan sistem indra kelenjar endokrin.

Sistem saraf memiliki pusat pengaturan yang disebut sistem saraf pusat. Untuk menyampaikan suatu pengaturan, sistem saraf pusat dibantu oleh sistem saraf tepi. Fungsi sistem saraf pada manusia adalah sebagai berikut:

  1. Mengatur organ-organ atau alat-alat tubuh agar terjadi keserasian kerja.
  2. Menerima rangsangan sehingga dapat mengetahui dengan cepat keadaan dan perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar.
  3. Mengendalikan dan memberikan reaksi terhadap rangsangan yang terjadi pada tubuh.

Sistem kelenjar endokrin akan menghasilkan hormon. Disebut sistem kelenjar endokrin karena organ ini berupa kelenjar yang tidak mempunyai saluran khusus. Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin akan mengatur pertumbuhan, reproduksi, metabolisme, dan tingkah laku.

 Sistem indra merupakan alat yang dapat mengatur tubuh kita guna mengenali dunia luar. Seperti saat kalian sedang menonton TV, maka kalian akan menggunakan indra penglihatan (mata) dan pendengaran (telinga) sehingga kalian dapat menikmati acara TV tersebut. 

Sungguh sangat bermanfaat sistem regulasi dalam tubuh kita. Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika Tuhan menciptakan kita tanpa indra. 



Gambar 8.1 Aktivitas tubuh kita
(a) berjalan, (b) makan, dikendalikan oleh sistem regulasi

A. Sistem Saraf

Sistem saraf tersusun atas berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi. Sistem saraf menerima berjuta-juta informasi yang berasal dari berbagai organ. Semua rangsangan tersebut akan bersatu untuk memberikan respon. Rangsangan dapat berasal dari dalam tubuh dan dari luar tubuh.

Reseptor adalah satu atau sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dari dalam tubuh.  Sistem saraf berperan menerima, mengolah, dan meneruskan hasil olahan rangsangan ke efektor.

Alat penerima rangsang ( reseptor) meliputi:
  1. Reseptor luar/eksoreseptor, berfungsi me-nerima rangsang bau, rasa, sentuhan, cahaya, suhu, dan lain-lain.
  2. Reseptor dalam/ interoreseptor, berfungsi menerima rangsang rasa lapar, kenyang, nyeri, kelelahan, dan lain-lain.
Sistem saraf terdiri atas 3 macam sel, yaitu:
  1. Neuron, bertugas mengantarkan impuls.
  2. Sel Schwann, merupakan pembungkus se-bagian besar akson pada sistem saraf perifer (sistem saraf tepi).
  3. Sel penyokong (neuroglia), merupakan sel yang terdapat di antara neuron dan sistem saraf pusat.
Efektor adalah sel atau organ yang menghasilkan tanggapan terhadap rangsangan. Efektor yang berperan penting dalam sistem regulasi adalah otot dan kelenjar.


Gambar 8.2 Struktur Neuron

1. Struktur Sel Saraf

Sistem saraf terdiri dari jutaan sel saraf (neuron). Fungsi sel saraf adalah mengirimkan pesan (impuls) yang berupa rangsang atau tanggapan. Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di dalamnya terdapat  sitoplasma dan inti sel. Perhatikan gambar 8.2. Lokasi badan sel terletak di sistem saraf pusat, beberapa ada juga yang terletak di sistem saraf perifer. Di sistem saraf pusat badan sel neuron berkelompok menjadi nukleus, sedangkan badan sel yang berkelompok selain di badan pusat disebut ganglion. Dari badan sel keluar dua macam serabut saraf, yaitu  dendrit dan  akson (neurit). 

Dendrit berfungsi mengirimkan impuls ke badan sel saraf, sedangkan akson berfungsi mengirimkan impuls dari badan sel ke jaringan lain. Akson biasanya sangat panjang. Sebaliknya, dendrit  pendek.

Gambar 8.3 Akson

Setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal satu dendrit. Perhatikan gambar 8.3. Kedua serabut saraf ini berisi plasma sel. Pada bagian luar akson terdapat lapisan lemak disebut  mielin yang merupakan kumpulan sel Schwann yang menempel pada akson. Sel Schwann adalah sel glia yang membentuk selubung lemak di seluruh serabut saraf mielin. Pada urat saraf yang datang dari otak dan sumsum tulang belakang serta yang menuju ke arah bagian lain dari tubuh, mielin tertutup oleh suatu membran pelindung yang tipis dan semitransparan yang disebut neurilema. Fungsi mielin adalah melindungi akson dan memberi nutrisi. Bagian dari  akson yang tidak terbungkus mielin disebut  nodus Ranvier, yang berfungsi mempercepat penghantaran impuls. 

Kelompok-kelompok  serabut saraf, akson, dan dendrit bergabung dalam satu selubung dan membentuk  urat saraf. Sedangkan badan sel saraf berkumpul membentuk ganglion atau  simpul saraf.


Gambar 8.4 Penampang melin tang saraf

Berdasarkan struktur dan fungsinya, sel saraf dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu sel saraf sensori, sel saraf motor, dan sel saraf intermediet (asosiasi).

a. Sel saraf sensori

Fungsi sel saraf sensori adalah menghantar impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu  otak ( ensefalon) dan  sumsum belakang ( medula spinalis). Ujung akson dari saraf sensori berhubungan dengan saraf asosiasi ( intermediet).

b. Sel saraf motor

Fungsi sel saraf motor adalah mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar yang hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan. Badan sel saraf motor berada di sistem saraf pusat. Dendritnya sangat pendek berhubungan dengan akson saraf asosiasi, sedangkan aksonnya dapat sangat panjang. 

c. Sel saraf intermediet

Sel saraf intermediet disebut juga sel saraf asosiasi. Sel ini dapat ditemukan  di dalam sistem saraf pusat dan berfungsi menghubungkan sel saraf motor dengan sel saraf sensori atau berhubungan dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat. Sel saraf intermediet menerima impuls dari reseptor sensori atau sel saraf asosiasi lainnya. sangat pendek berhubungan dengan akson saraf asosiasi, sedangkan aksonnya dapat sangat panjang. 

2. Mekanisme Penghantar Impuls

Impuls dapat dihantarkan melalui beberapa cara, di antaranya melalui sel saraf dan  sinapsis. Perhatikan gambar 8.5. Berikut ini akan dibahas secara rinci kedua cara tersebut,

Gambar 8.5  Sinapsis

 
a. Penghantaran impuls melalui sel saraf

Penghantaran impuls baik yang berupa rangsangan ataupun tanggapan melalui  serabut saraf (akson) dapat terjadi karena adanya perbedaan potensial listrik antara bagian luar dan bagian dalam sel. Pada waktu sel saraf beristirahat, kutub positif terdapat di bagian luar dan kutub negatif terdapat di bagian dalam sel saraf. 

Diperkirakan bahwa rangsangan (stimulus) pada indra menyebabkan terjadinya pembalikan perbedaan potensial listrik sesaat. Perubahan potensial ini (depolarisasi) terjadi berurutan sepanjang serabut saraf. Kecepatan perjalanan gelombang menyebabkan perbedaan potensial bervariasi antara 1 sampai dengan 120 m per detik, tergantung pada diameter  akson dan ada atau tidaknya selubung mielin.

Bila impuls telah lewat, maka untuk sementara serabut saraf tidak dapat dilalui oleh impuls, karena terjadi perubahan potensial kembali seperti semula (potensial istirahat). Untuk dapat berfungsi kembali diperlukan waktu 1/500 sampai 1/1000 detik. Energi yang digunakan dalam proses penghantaran rangsang berasal dari hasil  pernapasan sel yang dilakukan oleh mitokondria dalam sel saraf. 



Gambar 8.6 Impuls saraf.

Stimulasi yang kurang kuat atau di bawah ambang (threshold) tidak akan menghasilkan impuls yang dapat merubah potensial listrik. Tetapi bila kekuatannya di atas ambang, maka impuls akan dihantarkan sampai ke ujung akson. Stimulasi yang kuat dapat menimbulkan jumlah impuls yang lebih besar pada periode waktu tertentu daripada stimulasi yang lemah.

b. Penghantaran impuls melalui sinapsis

Titik temu antara  terminal akson salah satu  neuron dengan neuron lain dinamakan  sinapsis. Setiap terminal akson membengkak membentuk tonjolan sinapsis. Di dalam  sitoplasma tonjolan sinapsis terdapat struktur kumpulan membran kecil berisi  neurotransmiter yang disebut  vesikula sinapsis. Neuron yang berakhir pada tonjolan sinapsis disebut  neuron prasinapsis. Membran ujung  dendrit dari sel berikutnya yang membentuk sinapsis disebut postsinapsis. 

Bila impuls sampai pada ujung neuron, maka vesikula bergerak dan melebur dengan membran prasinapsis. Vesikula akan melepaskan neurotransmiter berupa asetilkolin. Neurotransmiter adalah suatu zat kimia yang dapat menyeberangkan impuls dari neuron prasinapsis ke  postsinapsis. 

Neurotransmiter ada bermacam-macam, misalnya asetilkolin yang terdapat di seluruh tubuh,  noradrenalin terdapat di sistem saraf simpatik, dan dopamin serta serotonin yang terdapat di otak. Asetilkolin kemudian berdifusi melewati celah sinapsis dan menempel pada reseptor yang terdapat pada membran postsinapsis. Penempelan asetilkolin pada reseptor menimbulkan impuls pada sel saraf berikutnya. Bila asetilkolin sudah melaksanakan tugasnya maka akan diuraikan oleh enzim asetilkolinesterase yang dihasilkan oleh membran postsinapsis. Perhatikan gambar 8.7. 



Gambar 8.7 Perjalanan impuls melalui sinapsis.

3. Terjadinya Gerak Biasa dan Gerak Refleks

Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan penghantaran impuls oleh saraf. Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari, yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari reseptor ke saraf sensori dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak, kemudian hasil olahan oleh otak berupa tanggapan dibawa oleh saraf motor sebagaiperintah yang harus dilaksanakan oleh efektor. Impuls gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk.

Pada gerak refleks, impuls melalui jalan pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai dari diterimanya impuls oleh sel saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak kemudian langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas ini disebut lengkung refleks. Perhatikan gambar 8.8. 

Gerak refleks dapat dibedakan atas refleks otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di dalam otak, misalnya, gerak mengedip atau mempersempit pupil bila ada sinar, dan re eks sumsum tulang belakang bila sel saraf penghubung berada di dalam  sumsum tulang  belakang, misalnya re eks pada lutut. 


Gambar 8.8 Lengkung refleks yang menggambarkan mekanisme 
jalannya impuls pada lutut yang dipukul.

4. Sistem Saraf pada Manusia

Pada umumnya, saraf manusia dibedakan menjadi sistem saraf pusatdan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat meliputi otak dan sumsum tulang belakang. Perhatikan gambar 8.9. Sistem saraf tepi dibagi menjadi sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (autonom). Sedangkan sistem saraf tak sadar ( autonom) terdiri dari sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Materi berikut akan menjelaskan bagian-bagian tersebut lebih terperinci.

Gambar 8.9 Sistem saraf manusia

a. Sistem saraf pusat

Sistem saraf pusat meliputi  otak ( ensefalon) dan sumsum tulang belakang ( medula spinalis). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat penting, sehingga perlu perlindungan. Selain tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, otak juga dilindungi 3 lapisan selaput meninges. Bila membran ini terkena infeksi, maka akan terjadi radang yang disebut  meningitis.

Gambar 8.10 Selaput meninges otak.

Ketiga lapisan membran meninges dari luar ke dalam adalah sebagai berikut.
  1. Durameter; merupakan selaput yang kuat dan bersatu dengan tengkorak.
  2. Arachnoid; disebut demikian karena bentuknya seperti sarang laba-laba. Di dalamnya terdapat cairan serebrospinalis; semacam cairan limfa yang mengisi sela-sela membran Arachnoid. Fungsi selaput Arachnoid adalah sebagai bantalan untuk melindungi otak dari bahaya kerusakan mekanik.
  3. Piameter; merupakan lapisan yang penuh dengan pembuluh darah dan sangat dekat dengan permukaan otak. Lapisan ini berfungsi untuk memberi oksigen dan nutrisi serta mengangkut bahan sisa metabolisme.
Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai 3 materi esensial, yaitu:
  1. Badan sel, yang membentuk bagian materi kelabu (substansi grissea).
  2. Serabut saraf, yang membentuk bagian materi putih (substansi alba).
  3. Sel-sel neuroglia, yaitu jaringan ikat yang terletak di antara sel-sel saraf di dalam sistem saraf pusat.
Walaupun otak dan sumsum tulang belakang mempunyai materi sama tetapi susunannya berbeda. Pada otak, materi kelabu terletak di bagian luar atau kulitnya (korteks) dan bagian putih terletak di tengah. Pada sumsum tulang belakang bagian tengah berupa materi kelabu berbentuk kupu-kupu, sedangkan bagian korteks berupa materi putih. 

1) Otak
 
Otak mempunyai lima bagian utama, yaitu:  otak besar (serebrum),  otak  tengah (mesensefalon),  otak kecil (serebelum), sumsum sambung ( medula oblongata), dan jembatan varol ( pons varolii). Perhatikan gambar 8.11.

Gambar 8.11 Bagian luar otak manusia dan penampang membujur otak.

a) Otak besar (serebrum)
 
Otak besar mempunyai fungsi dalam pe-ngaturan semua aktivitas mental, yaitu yang berkaitan dengan kepandaian (intelegensi), ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan. Otak besar merupakan sumber dari semua kegiatan/gerakan sadar atau sesuai dengan kehendak, walaupun ada juga beberapa gerakan re eks otak. Pada bagian korteks serebrum yang berwarna kelabu terdapat bagian penerima rangsang (area sensor) yang terletak di sebelah belakang area motor yang berfungsi mengatur gerakan sadar atau merespon rangsangan.

Selain itu, terdapat area asosiasi yang menghubungkan area motor dan sensorik. Area ini berperan dalam proses belajar, me nyimpan ingatan, membuat kesimpulan, dan belajar berbagai bahasa. Di sekitar kedua area tersebut adalah bagian yang mengatur kegiatan psikologi yang lebih tinggi. Misalnya bagian depan merupakan pusat proses berpikir, yaitu mengingat, analisis, berbicara, kreativitas, dan emosi. Pusat penglihatan terdapat di bagian belakang. 

Gambar 8.12 Daerah indra dan daerah motorik pada otak.

b) Otak tengah (mesensefalon)

Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. Di depan otak tengah terdapat  talamus dan kelenjar hipo sis yang mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin. Bagian atas (dorsal) otak tengah merupakan lobus optikus yang mengatur re eks mata seperti penyempitan pupil mata, dan juga merupakan pusat pendengaran.

c) Otak kecil (serebelum)
 
Serebelum mempunyai fungsi utama dalam koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya, maka gerakan sadar yang normal tidak mungkin dilaksanakan. 



Gambar 8.13 Perhubungan antara tulang belakang dengan otak

d)  Jembatan varol (pons varolii)
 Jembatan varol berisi  serabut saraf yang menghubungkan otak kecil 
bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar dan  sumsum
tulang belakang.
e) Sumsum sambung (medula oblongata)
 Sumsum sambung berfungsi menghantar impuls yang datang dari 
 medula spinalis menuju ke otak. Sumsum sambung juga mengatur
gerak re eks  siologi, seperti detak jantung, tekanan darah, volume,
dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar
pencernaan. Selain itu, sumsum sambung juga mengatur gerak re eks
yang lain, seperti bersin, batuk, dan berkedip.
2) Sumsum tulang belakang (medula spinalis)
 Pada penampang melintang sumsum tulang belakang tampak bagian 
luar berwarna putih, sedangkan bagian dalam berbentuk kupu-kupu 
dan berwarna kelabu. Perhatikan gambar 8.14. 

Gambar 8.14 Penampang melin tang sumsum tulang belakang.

Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal. Sedangkan impuls motor dihantar keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor.

Pada bagian putih sumsum tulang belakang terdapat serabut saraf asosiasi. Kumpulan serabut saraf membentuk saraf ( urat saraf). Urat saraf yang membawa impuls ke otak merupakan saluran ascenden. Sedangkan urat saraf  yang membawa impuls yang berupa perintah dari otak merupakan saluran desenden.

b. Sistem saraf tepi

Sistem saraf tepi pada dasarnya adalah lanjutan dari neuron yang bertugas membawa impuls saraf menuju ke dan dari sistem saraf pusat. Dilihat dari arah impuls yang dibawanya, sistem saraf tepi dibedakan atas:

  1. Sistem saraf aferen, yang membawa impuls saraf dari reseptor menuju ke sistem saraf pusat.
  2. Sistem saraf eferen, yang membawa impuls saraf dari sistem saraf pusat ke efektor.
Sistem saraf tepi meliputi sistem saraf sadar (somatik) dan sistem saraf  tak sadar ( autonom).

1) Sistem saraf sadar (somatik)
 
Sistem saraf sadar (somatik) terdiri dari 12 pasang saraf otak dan 31 pasang saraf sumsum tulang belakang. Dua belas pasang saraf otak itu antara lain:
  • Nervus olfaktori, saraf sensorik selaput lendir hidung.
  • Nervus optik, saraf sensorik retina mata.
  • Nervus okulomotor, saraf sensorik proprioseptor otot bola mata.
  • Nervus troklear, saraf sensorik proprioseptor.
  • Nervus trigeminal, saraf sensorik gigi dan kulit muka.
  • Nervus abdusen, saraf sensorik proprioseptor otot bola mata.
  • Nervus fasial, saraf sensorik ujung pengecap di ujung lidah.
  • Nervus auditori, saraf sensorik koklea dan saluran semiserkuler.
  • Nervus glosofaring, saraf sensorik ujung pengecap di lidah belakang.
  • Nervus vagus, saraf sensorik alat dalam (paru dan lambung).
  • Nervus spinal, saraf sensorik otot di belikat.
  • Nervus hipoglosal, saraf sensorik otot lidah.
2) Sistem saraf tak sadar
 
Sistem saraf tak sadar disebut juga saraf autonom, karena bekerja tanpa diperintah oleh sistem saraf pusat. Sistem saraf otonom mengontrol kegiatan organ-organ dalam, misalnya kelenjar keringat, otot perut, paruparu, jantung, otot polos, sistem pencernaan, dan otot polos pembuluh  darah. Susunan saraf otonom bersifat motorik atau digolongkan ke dalam saraf eferen.

 Berdasarkan sifat kerjanya, sistem saraf otonom dibedakan menjadi:

a) Saraf simpatik
 
Saraf simpatik memiliki ganglion yang terletak di sepanjang tulang punggung dan menempel pada sumsum tulang belakang. Saraf simpatik memiliki serabut praganglion yang pendek dan serabut pascaganglion yang panjang.

b) Saraf parasimpatik
 
Saraf parasimpatik memiliki serabut praganglion panjang dan serabut  pasca ganglion pendek. Susunan saraf parasimpatik berupa susunan saraf yang berhubungan dengan ganglion-ganglion yang tersebar di  seluruh tubuh. Fungsi saraf parasimpatik merupakan kebalikan dari fungsi saraf parasimpatik.

5. Kelainan pada Sistem Saraf

Kelainan pada sistem saraf dapat terjadi karena adanya kerusakan pada sistem saraf akibat luka, penggunaan obat-obatan, atau kerusakan yang bersifat genetik. Berikut ini dijelaskan beberapa jenis kelainan pada sistem saraf yang sering dijumpai.

a. Parkinson

Penyebab penyakit ini adalah ketidak-seimbangan kimia dalam sistem saraf. Parkinson diperkirakan bersifat genetik dan dapat pula disebabkan oleh pukulan keras pada kepala. Penyakit ini umumnya diderita oleh orang yang berusia di atas 60 tahun. Tetapi belakangan ini banyak ditemukan pada orang dewasa di bawah usia 60 tahun. Salah satu penyebabnya adalah paparan terhadap herbisida secara berlebihan. Gejala-gejala parkinson atara lain kontraksi otot tak terkendali pada leher, bahu, dan bibir. Penderita mengalami tremor (gerak tak terkendali) pada kepala, tangan, dan kaki.

Gambar 8.15 Muhammad Ali, salah satu penderita parkinson.

b. Multipel Sklerosis

Multiple Sklerosis adalah keadaan terjadinya degenerasi mielin pada sistem saraf pusat. Adanya penghantaran impuls saraf menjadi terhambat dan terjadi gejala seperti hilangnya koordinasi tubuh, gangguan penglihatan, dan gangguan bicara. Penyakit ini dapat berkembang perlahan tetapi dapat pula menyerang secara tiba-tiba. Penyebabnya diperkirakan berupa kerentanan yang bersifat genetik, infeksi virus, dan gangguan sistem kekebalan tubuh. 

c. Polio

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus polio pada  sumsum tulang belakang. Virus ini menye rang anak-anak, menimbulkan demam, dan sakit kepala yang berakhir pada hilangnya refleks, kelumpuhan, dan mengecilnya otot. Bila sudah terjadi, polio tidak dapat diobati, tetapi penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi polio. Di Indonesia virus polio muncul di Sukabumi pada tahun 2005. Kemunculan virus polio ini sangat mengejutkan, karena semenjak diadakannya imunisasi polio pada anak-anak baru pada tahun tersebut terdapat anak yang menderita polio dalam jumlah besar. Diduga virus yang menyerang adalah jenis virus polio liar.

Gambar 8.16 Salah satu penderita polio

B. Hormon

Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin ataukelenjar buntu. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang tidak mempunyaisaluran sehingga sekresinya akan masuk aliran darah dan mengikutiperedaran darah ke seluruh tubuh. Apabila sampai pada suatu organ target, maka hormon akan merangsang terjadinya perubahan. Pada umumnyapengaruh hormon berbeda dengan saraf. Hormon mengatur aktivitas seperti metabolisme, reproduksi, dan pertumbuhan.




















Gambar 8.17 Letak kelenjar endokrin manusia

Perubahan yang dikontrol oleh hormon biasanya merupakan perubahan yang memerlukan waktu panjang, yaitu pada hitungan bulan bahkan tahun. Misalnya pada pertumbuhan dan pemasakan seksual. Hal ini dapat dilihat pada proses munculnya tanda-tanda kelamin sekunder pada laki-laki. Tanda-tanda kelamin sekunder pada laki-laki muncul setelah menginjak masa pubertas dan berjalan perlahan. Tanda-tanda kelamin sekunder ini dipengaruhi hormon testosteron. Tetapi hormon dapat juga berpengaruh dalam waktu pendek, misalnya dalam hitungan detik, jam, hari, ataupun minggu. Hal ini dapat dilihat ketika kita mengalami kejadian yang menakutkan. Saat kejadian menakutkan terjadi maka kita akan berusaha menghindarinya, salah satunya dengan berlari. Saat berlari tanpa terasa kita telah dibantu kerja hormon adrenalin yang mempertinggi frekuensi dan memperkuat denyut jantung. 

Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh, tetapi hanya sel yang mengandung reseptor yang khusus terhadap hormon tersebut yang akan terpengaruh. Kadar hormon dalam darah sangat rendah, karena hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin sangat sedikit. Adapun ciri-ciri hormon adalah sebagai berikut:
  • Diproduksi dan disekresikan ke dalam darah oleh sel kelenjar endokrin dalam jumlah yang sangat sedikit.
  • Diangkut oleh darah menuju ke sel/jaringan target.
  • Mengadakan interaksi dengan reseptor khusus yang terdapat di sel target.
  • Mempunyai pengaruh mengaktifkan enzim khusus.
  • Mempunyai pengaruh tidak hanya terhadap satu sel target tetapi dapat juga memengaruhi beberapa sel target yang berlainan.
1. Kelenjar Endokrin dan Hormon yang Dihasilkan

Dalam tubuh manusia ada tujuh kelenjar endokrin yang penting, yaitu hipotesis,  tiroid,  paratiroid, kelenjar adrenalin ( anak ginjal),  pankreas,  ovarium, dan testis. Berikut ini akan dibahas lebih rinci tiap-tiap kelenjar tersebut.

a. Hipotesis

Kelenjar ini terletak pada dasar  otak besar dan menghasilkan bermacam-macam hormon yang mengatur kegiatan kelenjar lainnya. Oleh karena itu, kelenjar hipofisis disebut kelenjar pengendali ( master of gland). Kelenjar hipo sis dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian  anterior, bagian tengah, dan bagian  posterior. 

1) Hipotesis bagian anterior













Gambar 8.18 (a) Akromegali, (b) gigantisme.

Hormon yang dihasilkan kelenjar hipo sis bagian anterior dan fungsinya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

2) Hipotesis bagian tengah

Kelenjar ini menghasilkan  hormon perangsang melanosit atau melanosit stimulating hormone (MSH). Apabila hormon ini banyak dihasilkan maka menyebabkan kulit menjadi hitam. Sekresi MSH juga dirangsang oleh faktor pengatur yang disebut faktor perangsang pelepasan hormon melanosit dan  dihambat oleh faktor inhibisi  hormon melanosit (MIF).

3) Hipo sis bagian posterior
 
Hipofisis bagian  posterior menghasilkan oksitosin dan  vasopresin. Oksitosin berperan dalam merangsang  otot polos yang terdapat di uterus, sedangkan vasopresin disebut juga hormon antidiuretik (ADH) berpengaruh  pada proses reabsorpsi urine pada tubulus distal sehingga mencegah pengeluaran urine yang terlalu banyak.

b. Tiroid (kelenjar gondok)

Tiroid merupakan kelenjar yang berbentuk cuping kembar dan di antara keduanya terdapat daerah yang tersusun berlapis seperti susunan genting pada atap rumah. Kelenjar ini terdapat di bawah jakun di depan trakea. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin yang memengaruhi metabolisme sel tubuh dan pengaturan suhu tubuh. 

Tiroksin mengandung banyak yodium. Ke-kurangan yodium dalam makanan dalam waktu panjang mengakibatkan pembesaran kelenjar gondok karena kelenjar ini harus bekerja keras untuk membentuk tiroksin. Kekurangan tiroksin menurunkan kecepatan metabolisme sehingga pertumbuhan lambat dan kecerdasan menurun.

Bila ini terjadi pada anak-anak mengakibatkan kretinisme, yaitu kelainan  sik dan mental yang menyebabkan anak tumbuh kerdil dan idiot. Kekurangan yodium yang masih ringan dapat diperbaiki dengan menambahkan garam yodium di dalam makanan.

Produksi tiroksin yang berlebihan menyebabkan penyakit eksoftalmiktiroid (Morbus Basedowi) dengan gejala sebagai berikut; kecepatan metabolismemeningkat, denyut nadi bertambah, gelisah, gugup, dan merasa demam.Gejala lain yang nampak adalah bola mata menonjol keluar (eksoftalmus)dan kelenjar tiroid membesar.

c. Paratiroid/kelenjar anak gondok
 
Paratiroid menempel pada kelenjar tiroid. Kelenjar ini menghasilkan parathormon yang berfungsi mengatur kandungan fosfor dan kalsium dalam darah. Kekurangan  hormon ini menyebabkan tetani dengan gejala: kadar kapur dalam darah menurun, kejang di tangan dan kaki, jari-jari tangan membengkok ke arah pangkal, gelisah, sukar tidur, dan kesemutan. Tumor paratiroid menyebabkan kadar parathormon terlalu banyak di dalam darah. Hal ini mengakibatkan terambilnya fosfor dan kalsium dalam tulang, sehingga urine banyak mengandung kapur dan fosfor. Pada orang yang terserang penyakit ini tulang mudah sekali patah. Penyakit ini disebut von Recklinghousen.

d.  Kelenjar adrenal/suprarenal/anak ginjal

Kelenjar ini berbentuk bola, menempel pada bagian atas  ginjal. Pada setiap ginjal terdapat satu kelenjar suprarenal yang dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian luar (korteks) dan bagian tengah (medula). Kelenjar bagian korteks menghasilkan  hormon kortison yang terdiri atas mineralokortikoid yang membantu metabolisme garam natrium dan kalium serta menjaga keseimbangan hormon seks; dan glukokortikoid yang berfungsi membantu metabolisme karbohidrat.

Kelenjar bagian medula menghasilkan hormon adrenalin dan  hormon noradrenalin. Hormon adrenalin menyebabkan meningkatnya denyut jantung, kecepatan pernapasan, dan tekanan darah (menyempitkan pembuluh darah).  Hormon noradrenalin bekerja secara antagonis terhadap  adrenalin, yaitu berfungsi menurunkan tekanan darah dan denyut jantung. 

Kerusakan pada bagian korteks mengakibatkan penyakit  Addison dengan gejala-gejala: timbul kelelahan, nafsu makan berkurang, mual, muntahmuntah, terasa sakit di dalam tubuh. Dalam keadaan ketakutan atau dalam keadaan bahaya, produksi adrenalin meningkat sehingga denyut jantung  meningkat dan memompa darah lebih banyak. Gejala lainnya adalah melebarnya saluran bronkiolus, melebarnya pupil mata, kelopak mata terbuka lebar, dan diikuti dengan rambut berdiri.

e. Pankreas

Ada beberapa kelompok sel pada  pankreas yang dikenal sebagai pulau Langerhans. Bagian ini berfungsi sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon insulin.  Hormon ini berfungsi mengatur konsentrasi glukosa dalam darah. Kelebihan glukosa akan dibawa ke sel hati dan selanjutnya akan dirombak menjadi glikogen untuk disimpan. Kekurangan hormon ini akan menyebabkan penyakit diabetes yang ditandai dengan meningkatnya kadar glukosa dalam darah. Kelebihan glukosa tersebut dikeluarkan bersama urine. Tanda-tanda diabetes melitus yaitu sering mengeluarkan urine dalam jumlah banyak, sering merasa haus dan lapar, serta badan terasa lemas. Selain menghasilkan insulin, pankreas juga menghasilkan hormon glukagon yang bekerja antagonis dengan  hormon insulin. 

f. Hormon yang dihasilkan kelenjar gonad

Pada manusia, gonad atau kelenjar seks berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki disebut testis, sedangkan pada perempuan disebut ovarium. Testis dan ovarium mensekresikan hormon seks yang berperan dalam produksi sel-sel kelamin.

1) Ovarium
 
Ovarium merupakan organ reproduksi wanita. Selain menghasilkan sel telur, ovarium juga menghasilkan hormon. Ada dua macam hormon yang dihasilkan ovarium yaitu:

a)  Estrogen

Hormon ini dihasilkan oleh  Folikel de Graaf. Pembentukan estrogen dirangsang oleh  FSH. Fungsi estrogen adalah menimbulkan dan mempertahankan tanda-tanda kelamin sekunder pada wanita. Tanda tanda kelamin sekunder adalah ciri-ciri yang dapat membedakan wanita dengan pria tanpa melihat kelaminnya. Contohnya, perkembangan pinggul, payudara, dan kulit menjadi bertambah halus.

b)  Progesteron
 
Hormon ini dihasilkan oleh korpus luteum. Pembentukannya dirangsang oleh LH. Progesteron berfungsi menyiapkan dinding uterus agar dapat menerima telur yang sudah dibuahi.

2) Testis

Seperti halnya ovarium, testis adalah organ reproduksi khusus pada pria. Selain menghasilkan  sperma, testis berfungsi sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon androgen, yaitu testosteron. Testosteron berfungsi menimbulkan dan memelihara kelangsungan tanda-tanda kelamin sekunder. Misalnya suara yang membesar, mempunyai kumis, dan jakun.

2. Faktor-Faktor Pengatur Sekresi Hormon

Ada dua faktor yang berfungsi mengatur sekresi hormon, yaitu saraf dan faktor bahan kimia. 

a. Faktor saraf

Bagian medula kelenjar suprarenal mendapat pelayanan dari saraf otonom. Oleh karena itu sekresinya diatur oleh saraf otonom.

b. Faktor kimia

Susunan bahan kimia atau hormon lain dalam aliran darah memengaruhi sekresi  hormon tertentu. Contohnya, sekresi insulin dipengaruhi oleh jumlah glukosa di dalam darah.

C. Sistem Indra

Alat indra merupakan suatu alat tubuh yang mampu menerima rangsang tertentu. Indra mempunyai sel-sel reseptor khusus untuk mengenali perubahan lingkungan sehingga fungsi utama indra adalah mengenal lingkungan luar atau berbagai rangsang dari lingkungan di luar tubuh kita. Dengan memiliki indra kita mampu mengenal lingkungan dan menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan. Oleh karena itu, kita dapat melindungi tubuh kita terhadap gangguan-gangguan dari luar tubuh. 

Setiap indra yang kita miliki terdiri dari alat penerima rangsang dan urat saraf. Alat indra terdiri dari bagian-bagian yang berfungsi menerima, mengolah, dan menjawab rangsang. Manusia memiliki lima macam indra, yaitu:
  1. indra penglihatan (mata),
  2. indra pendengaran (telinga),
  3. indra peraba (kulit),
  4. indra pengecap (lidah),
  5. indra pembau (hidung). 
Kelima  indra tersebut berfungsi untuk mengenali perubahan lingkungan luar, oleh karenanya disebut eksoreseptor. Reseptor yang berfungsi untuk mengenali lingkungan dalam, misalnya nyeri, kadar oksigen atau karbon dioksida, kadar glukosa dan sebagainya, disebut interoreseptor. Sel-sel interoreseptor, misalnya terdapat pada sel otot, tendon, ligamentum, sendi, dinding saluran pencernaan, dinding pembuluh darah, dan lain sebagainya. Walaupun demikian, sesungguhnya interoreseptor terdapat di seluruh tubuh manusia. Interoreseptor yang membantu koordinasi dalam sikap tubuh disebut kinestesis.

1. Indra Penglihatan (Mata) 











Gambar 8.20 Mata

Mata mempunyai reseptor khusus untuk me ngenali perubahan sinar dan warna. Sesungguhnya yang disebut mata bukanlah hanya bola mata, tetapi termasuk otot-otot penggerak bola mata, kotak mata (rongga tempat mata berada), kelopak, dan bulu mata. Perhatikan gambar 8.20.

a. Bola Mata

Bola mata mempunyai 3 lapis dinding yang mengelilingi rongga bola  mata. Ketiga lapis dinding ini dari luar ke dalam adalah sebagai berikut.

1) Sklera

Sklera merupakan jaringan ikat dengan serat yang kuat; berwarna putih buram (tidak tembus cahaya), kecuali di bagian depan bersifat transparan. Bagian yang transparan tersebut disebut  kornea. Konjungtiva adalah lapisan transparan yang melapisi kornea dan kelopak mata. Lapisan ini berfungsi melindungi bola mata dari gangguan.

2) Koroid

Koroid berwarna cokelat kehitaman sampai hitam, merupakan lapisan yang berisi banyak pembuluh darah yang memberi nutrisi dan oksigen terutama untuk retina. Warna gelap pada koroid berfungsi untuk mencegah reaksi (pemantulan sinar). Di bagian depan, koroid membentuk badan siliaris yang berlanjut ke depan membentuk iris yang berwarna. Di bagian depan iris bercelah membentuk  pupil (anak mata). Pupil berfungsi sebagai jalan sinar masuk. Iris berfungsi sebagai  diafragma, yaitu pengontrol ukuran pupil untuk mengatur sinar yang masuk. Badan siliaris membentuk ligamentum yang berfungsi mengikat lensa mata. Kontraksi dan relaksasi dari otot badan siliaris akan mengatur cembung pipihnya lensa.












Gambar 8.21  Struktur mata.

3)  Retina

Lapisan ini peka terhadap sinar. Pada seluruh bagian retina berhubungan dengan badan sel-sel saraf yang serabutnya membentuk urat saraf optik yang memanjang sampai ke  otak. Bagian yang dilewati urat saraf optik tidak peka terhadap sinar dan daerah ini disebut bintik buta. Adanya lensa dan ligamentum pengikatnya menyebabkan rongga bola mata terbagi dua, yaitu bagian depan terletak di depan lensa berisi cairan yang disebut aqueous humor dan bagian belakang terletak di belakang lensa berisi vitreous humor. Kedua cairan tersebut berfungsi menjaga lensa agar selalu dalam bentuk yang benar. 

Bagian-bagian mata yang lain yaitu: kotak mata pada tengkorak berfungsi melindungi bola mata dari kerusakan. Selaput transparan yang melapisi kornea dan bagian dalam kelopak mata disebut konjungtiva. Selaput ini peka terhadap iritasi. Konjungtiva penuh dengan pembuluh darah dan serabut saraf. Radang konjungtiva disebut konjungtivitis. Untuk mencegah kekeringan, konjungtiva dibasahi dengan cairan yang keluar dari kelenjar air mata (kelenjar lakrimal) yang terdapat di bawah alis. Air mata mengandung lendir, garam, dan antiseptik dalam jumlah kecil. Air mata berfungsi sebagai alat pelumas dan pencegah masuknya mikroorganisme ke dalam mata.

b. Otot mata

Ada enam  otot mata yang berfungsi memegang sklera. Empat di antaranya disebut otot rektus ( rektus inferior, rektus superior,  rektus eksternal, dan  rektus internal).  Otot rektus berfungsi menggerakkan bola mata ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah. Dua lainnya adalah  otot obliq atas (superior) dan otot obliq bawah (inferior).

c. Fungsi mata

Sinar yang masuk ke mata sebelum sampai di  retina mengalami pembiasan lima kali, yaitu waktu melalui konjungtiva,  kornea, aqueous humor, lensa, dan vitreous humor. Pembiasan terbesar terjadi di kornea. Bagi mata normal, bayang-bayang benda akan jatuh pada bintik kuning, yaitu bagian yang paling peka terhadap sinar. 

Ada dua macam sel reseptor pada retina, yaitu  sel kerucut (sel konus) dan sel batang (sel basilus). Sel konus berisi pigmen lembayung dan sel batang berisi pigmen ungu. Kedua macam  pigmen akan terurai bila terkena sinar, terutama pigmen ungu yang terdapat pada sel batang. Oleh karena itu, pigmen pada sel basilus berfungsi untuk situasi kurang terang, sedangkan pigmen dari sel konus berfungsi lebih pada suasana terang, yaitu untuk membedakan warna, makin ke tengah maka jumlah sel batang makin berkurang, sehingga di daerah bintik kuning hanya ada sel konus saja. Pigmen ungu yang terdapat pada  sel basilus disebut  rodopsin, yaitu suatu senyawa protein dan vitamin A. Apabila terkena sinar, misalnya sinar matahari, maka rodopsin akan terurai menjadi protein dan vitamin

A. Pembentukan kembali pigmen terjadi dalam keadaan gelap

Untuk pembentukan kembali memerlukan waktu yang disebut  adaptasi gelap (disebut juga adaptasi rodopsin). Pada waktu adaptasi, mata sulit untuk melihat. Pigmen lembayung dari sel konus merupakan senyawa iodopsin yang  merupakan gabungan antara  retinin dan  opsin. Ada tiga macam sel konus, yaitu sel yang peka terhadap warna merah, hijau, dan biru. Dengan ketiga macam sel konus tersebut mata dapat menangkap spektrum warna. Kerusakan salah satu sel konus akan menyebabkan  buta warna. 

Jarak terdekat yang dapat dilihat dengan jelas disebut titik dekat (punctum proximum). Jarak terjauh saat benda tampak jelas tanpa kontraksi disebut titik jauh (punctum remotum). Jika kita sangat dekat dengan objek, maka cahaya yang masuk ke mata tampak seperti kerucut, sedangkan jika kita sangat jauh dari objek, maka sudut kerucut cahaya yang masuk sangat kecil sehingga sinar tampak paralel. 

Baik sinar dari objek yang jauh maupun yang dekat harus direfraksikan (dibiaskan) untuk menghasilkan titik yang tajam pada retina agar objek terlihat jelas. Pembiasan cahaya untuk menghasilkan penglihatan
yang jelas disebut  pemfokusan. 

Cahaya dibiaskan jika melewati konjungtiva kornea. Cahaya dari objek yang dekat membutuhkan lebih banyak pembiasan untuk pemfokusan dibandingkan objek yang jauh. Mata mamalia mampu mengubah derajat pembiasan dengan cara mengubah bentuk lensa. Cahaya dari objek yang jauh difokuskan oleh lensa tipis panjang, sedangkan cahaya dari objek yang dekat difokuskan dengan lensa yang tebal dan pendek. Perubahan bentuk lensa ini akibat kerja otot siliari. Saat melihat dekat, otot siliari berkontraksi sehingga memendekkan apertura yang mengelilingi lensa. Akibatnya lensa menebal dan pendek. Saat melihat jauh, otot siliari relaksasi sehingga apertura yang mengelilingi lensa membesar dan tegangan ligamen suspensor bertambah. Akibatnya ligamen suspensor mendorong lensa sehingga lensa memanjang dan pipih. Proses pemfokusan objek pada jarak yang berbeda-beda disebut daya akomodasi. Cara kerja mata manusia pada dasarnya sama dengan cara kerja kamera, kecuali cara mengubah fokus lensa.

d. Gangguan pada mata

Mata manusia dapat mengalami kelainan atau gangguan. Gangguan atau kelainan tersebut dapat diakibatkan karena penyakit, kebiasaan yang buruk, siensi, dan faktor usia. Berikut ini akan dijelaskan beberapa gangguan dan kelainan pada mata.
  1. Miopi adalah cacat mata yang disebabkan oleh  lensa mata terlalu cembung sehingga bayangan dari benda yang jauh jatuh di depan retina. Miopi disebut pula rabun jauh, karena tidak dapat melihat benda yang jauh dengan jelas. Penderita miopi hanya mampu melihat jelas benda yang dekat. Untuk menolong penderita miopi dipakai kacamata lensa cekung ( lensa negatif).
  2. Hipermetropi adalah cacat mata yang disebabkan oleh lensa mata terlalu pipih sehingga bayangan dari benda yang dekat jatuh di belakang retina. Hipermetropi disebut juga  rabun dekat karena tidak dapat melihat benda yang jaraknya dekat. Penderita hipermetropi hanya mampu melihat benda yang jauh. Untuk menolongnya digunakan kacamata lensa cembung.
  3. Presbiopi umumnya terjadi pada orang berusia lanjut. Keadaan ini disebabkan lensa mata terlalu pipih. Selain itu, daya akomodasi mata sudah lelah sehingga tidak dapat memfokuskan bayangan benda yang berada dekat mata.
  4. Astigmatisma adalah cacat mata yang disebabkan oleh kecembungan permukaan kornea atau permukaan lensa mata yang tidak rata sehingga sinar yang datang tidak difokuskan pada satu titik. Untuk menolong orang yang cacat mata seperti ini dipakai kacamata lensa silindris yang memiliki beberapa fokus.
  5. Katarak adalah cacat mata yang disebabkan adanya pengapuran pada lensa mata sehingga daya akomodasi berkurang dan penglihatan menjadi kabur. Katarak umumnya terjadi pada orang yang sudah berusia lanjut dan dapat menimbulkan kebutaan.
  6. Hemeralopi (rabun senja) adalah penyakit pada mata yang disebabkan oleh kekurangan vitamin A. Penderita rabun senja tidak dapat melihat dengan jelas pada senja hari. Bila keadaan demikian dibiarkan berlanjut akan mengakibatkan kornea mata rusak dan dapat menyebabkan kebutaan.
  7. Buta warna merupakan kelainan penglihatan mata yang bersifat menurun. Penderita buta warna tidak mampu membedakan warna-warna tertentu, misalnya warna merah, hijau, atau biru. Seseorang yang buta warna total hanya dapat membedakan warna hitam dan putih saja.
  8. Keratomalasia timbul karena  kornea menjadi putih dan rusak.
2. Indra Pendengaran (Telinga)

Telinga mempunyai reseptor khusus untuk mengenali getaran bunyidan untuk keseimbangan. Ada tiga bagian utama dari telinga manusia, yaitu bagian telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar berfungsi menangkap getaran bunyi, dan telinga tengahmeneruskan getaran dari telinga luar ke telinga dalam. Reseptor yang adapada telinga dalam akan menerima rangsang bunyi dan mengirimkannya berupa impuls ke otak untuk diolah. Perhatikan gambar 8.25.












Gambar 8.25 Bagian-bagian telinga.

a. Susunan telinga

Telinga tersusun atas tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.

1) Telinga luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga, saluran luar, dan membran timpani (gendang telinga). Daun telinga manusia mempunyai bentuk yang khas, tetapi bentuk ini kurang mendukung fungsinya sebagai penangkap dan pengumpul getaran suara. Bentuk daun telinga yang sangat sesuai dengan fungsinyaadalah daun telinga pada anjing dan kucing, yaitu tegak dan membentuk saluran menuju gendang telinga. Saluran luar yang dekat dengan lubang telinga dilengkapi dengan rambut-rambut halus yang menjaga agar benda asing tidak masuk. Selain itu, terdapat kelenjar lilin yang menjaga agar permukaan saluran luar dan gendang telinga tidak kering. 

2) Telinga tengah

Bagian ini merupakan rongga yang berisi udara untuk menjaga tekanan udara agar seimbang. Di dalamnya terdapat saluran eustachius yang menghubungkan telinga tengah dengan faring. Rongga telinga tengah berhubungan dengan telinga luar melalui membran timpani. Hubungan telinga tengah dengan bagian telinga dalam melalui jendela oval dan jendela bundar yang keduanya dilapisi dengan membran yang transparan. 

Selain itu terdapat pula tiga tulang pendengaran yang tersusun seperti rantai yang menghubungkan gendang telinga dengan jendela oval. Ketiga tulang tersebut adalah tulang martil (maleus) menempel pada gendang telinga dan tulang landasan (inkus). Kedua tulang ini terikat erat oleh ligamentum sehingga mereka bergerak sebagai satu tulang. Tulang yang ketiga adalah tulang sanggurdi (stapes) yang berhubungan dengan jendela oval. 

Antara tulang landasan dan tulang sanggurdi terdapat sendi yang memungkinkan gerakan bebas. Fungsi rangkaian tulang pendengaran adalah untuk mengirimkan getaran suara dari gendang telinga (membran timpani) menyeberangi rongga telinga tengah ke jendela oval.

3) Telinga dalam

Bagian ini mempunyai susunan yang rumit, terdiri dari  labirin tulang dan labirin membran. Ada 5 bagian utama dari labirin membran, yaitu sebagai berikut.

a) tiga saluran setengah lingkaran,
b) ampula,
c) utrikulus,
d) sakulus,
e) koklea atau  rumah siput.

Sakulus berhubungan dengan  utrikulus melalui saluran sempit. Tiga saluran setengah lingkaran, ampula, utrikulus, dan  sakulus merupakan organ keseimbangan, dan keempatnya terdapat di dalam  rongga vestibulum dari labirin tulang.

Koklea mengandung  organ Korti untuk pendengaran. Koklea terdiri dari tiga saluran yang sejajar, yaitu:  saluran vestibulum yang berhubungan dengan jendela oval, saluran tengah, dan  saluran timpani yang berhubungan dengan jendela bundar, serta saluran (kanal) yang dipisahkan satu dengan lainnya oleh membran.

Di antara saluran  vestibulum dengan saluran tengah terdapat membran Reissner, sedangkan di antara saluran tengah dengan saluran timpani terdapat membran basiler. Dalam saluran tengah terdapat suatu tonjolan yang dikenal sebagai membran tektorial yang paralel dengan membran basiler dan ada di sepanjang koklea. Sel sensori untuk mendengar tersebar di permukaan membran basiler dan ujungnya berhadapan dengan membran tektorial. Dasar dari sel pendengar terletak pada membran basiler dan berhubungan dengan serabut saraf yang bergabung membentuk saraf pendengar. Bagian yang peka terhadap rangsang bunyi ini disebut organ Korti.

b. Cara kerja indra pendengaran

Gelombang bunyi yang masuk ke dalam telinga luar menggetarkan gendang telinga. Getaran ini akan diteruskan oleh ketiga tulang pendengaran ke jendela oval. Getaran struktur koklea pada jendela oval diteruskan ke cairan limfa yang ada di dalam saluran vestibulum. Getaran cairan tadi akan menggerakkan membran Reissner dan menggetarkan cairan limfa dalam saluran tengah. Perpindahan getaran cairan limfa di dalam saluran tengah menggerakkan membran basiler yang dengan sendirinya akan menggetarkan cairan dalam  saluran timpani. Perpindahan ini menyebabkan melebarnya membran pada jendela bundar. 

Getaran dengan frekuensi tertentu akan menggetarkan selaput-selaput basiler, yang akan menggerakkan sel-sel rambut ke atas dan ke bawah. Ketika rambut-rambut sel menyentuh membran tektorial, terjadilah rangsangan (impuls). Getaran membran tektorial dan membran basiler akan menekan sel sensori pada  organ Korti dan kemudian menghasilkan impuls yang akan dikirim ke pusat pendengar di dalam otak  melalui saraf pendengaran. 

c. Susunan dan cara kerja alat keseimbangan

Bagian dari alat  vestibulum atau alat keseimbangan berupa tiga saluran setengah lingkaran yang dilengkapi dengan  organ ampula (kristal) dan organ keseimbangan yang ada di dalam utrikulus dan sakulus. Ujung dari setiap saluran setengah lingkaran membesar dan disebut ampula yang berisi reseptor. Pangkalnya berhubungan dengan utrikulus yang menuju ke sakulus.  Utrikulus maupun sakulus berisi reseptor keseimbangan.

Alat keseimbangan yang ada di dalam ampula terdiri dari kelompok sel saraf sensori yang mempunyai rambut dalam tudung gelatin yang berbentuk kubah. Alat ini disebut kupula. Saluran semisirkuler (saluran setengah lingkaran) peka terhadap gerakan kepala. Alat keseimbangan di dalam utrikulus dan  sakulus terdiri dari sekelompok sel saraf yang ujungnya berupa rambut bebas yang melekat pada  otolith, yaitu butiran natrium karbonat. Posisi kepala mengakibatkan desakan otolith pada rambut yang menimbulkan impuls yang akan dikirim ke  otak.

d. Gangguan dan penyakit pada telinga

Indra pendengaran (telinga) dapat mengalami gangguan atau kelainan. Gangguan tersebut dapat berupa tersumbatnya telingan oleh kotoran dan hilangnya pendengaran akibat pencemaran suara.

1) Tersumbatnya telinga oleh kotoran

Telinga bagian luar memiliki kelenjar yang menghasilkan minyak. Minyak ini berguna untuk mencegah air dan kotoran masuk ke dalam telinga. Biasanya, minyak bersama kotoran mengggumpal dan akan mengering. Selanjutnya, kotoran telinga ini akan keluar dengan sendirinya. Namun, kadangkala kotoran telinga mengumpul terlalu banyak dan menyumbat telinga. Jika keadaan demikian, harus konsultasi dengan dokter.

2) Hilangnya pendengaran akibat pencemaran suara

Suara yang terlalu keras dapat menyebabkan kerusakan telinga bagian dalam. Akibatnya, pendengaran dapat terganggu dan bahkan pendengaran hilang. Rusaknya telinga akibat suara yang terlalu keras dapat dicegah dengan tidak mendengarkan dan menghindari sumber pencemaran suara atau menggunakan alat penutup telinga yang dapat mengurangi intensitas suara.

3. Indra Peraba (Kulit)

Kulit pada manusia dapat berfungsi sebagai  organ ekskresi maupun sebagai indra peraba.  Kulit merupakan indra peraba yang mempunyai reseptor khusus untuk sentuhan, panas, dingin, sakit, dan tekanan.

a. Susunan kulit

Kulit terdiri dari lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam yang disebut lapisan  dermis. Pada epidermis tidak terdapat  pembuluh darah dan sel saraf.  Epidermis tersusun atas empat lapis  sel. Dari bagian dalam ke bagian luar, pertama adalah stratum germinativum berfungsi membentuk lapisan di sebelah atasnya. Kedua, yaitu di sebelah luar lapisan germinativum terdapat stratum granulosum yang berisi sedikit keratin yang menyebabkan kulit menjadi keras dan kering. Selain itu sel-sel dari lapisan granulosum umumnya menghasilkan pigmen hitam (melanin).

Kandungan  melanin menentukan derajat warna kulit, kehitaman, atau kecokelatan. Lapisan ketiga merupakan lapisan yang transparan disebut stratum lusidum. Lapisan keempat (lapisan terluar) adalah lapisan tanduk disebut stratum korneum.

Pada lapisan dalam, lapisan dermis merupakan jaringan penyokong yang terdiri dari serat yang berwarna putih dan serat yang berwarna kuning. Serat kuning bersifat elastis/lentur, sehingga kulit dapat mengembang. Stratum germinativum mengadakan pertumbuhan ke daerah dermis membentuk kelenjar keringat dan akar rambut. Akar rambut berhubungan dengan pembuluh darah yang membawakan makanan dan oksigen. Selain itu juga berhubungan dengan serabut saraf. Pada setiap pangkal akar rambut melekat otot penggerak rambut. Pada waktu dingin atau merasa takut, otot rambut mengerut dan rambut menjadi tegak. Di sebelah dalam dermis terdapat timbunan lemak yang berfungsi sebagai bantalan untuk melindungi bagian dalam tubuh dari kerusakan mekanik.

b. Fungsi kulit

Kulit berfungsi sebagai alat pelindung bagian dalam, misalnya otot dan tulang; sebagai alat peraba dengan dilengkapi dengan bermacam reseptor yang peka terhadap berbagai rangsangan; sebagai alat ekskresi; serta pengatur suhu tubuh.

Sehubungan dengan fungsinya sebagai alat peraba, kulit dilengkapi dengan reseptor-reseptor khusus. Reseptor untuk rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah  epidermis. Reseptor untuk tekanan (korpuskula Pacini) ujungnya berada di  dermis yang jauh dari epidermis. Reseptor untuk rangsang sentuhan dan panas (korpuskula Ru ni) ujung reseptornya terletak di dekat epidermis. Kemudian reseptor untuk rangsang dingin (ujung saraf Krause) dan reseptor yang lain misalnya korpuskula Meissner.

c. Gangguan dan penyakit pada kulit
 
Kulit sebagai indra peraba dapat mengalami gangguan atau kelainan. Kelainan tersebut disebabkan karena kotoran, penyakit, atau kesalahan kosmetik. Berikut ini akan dijelaskan beberapa kelainan dan penyakit pada kulit.

1) Jerawat
 
Jerawat biasanya muncul di wajah, leher, punggung, bahu, dada, dan bahkan di lengan atas. Jerawat biasanya terjadi karena tersumbatnya pori-pori kulit oleh kotoran.

2) Dermatitis
 
Dermatitis atau eksim merupakan penyakit peradangan kulit. Dermatitis secara umum ditandai dengan kulit yang membengkak, memerah, dan gatal-gatal. Dermatitis dapat disebabkan oleh benda-benda yang menyebabkan alergi pada kulit (misalnya sabun, logam, atau kosmetik).

3) Ketombe
 
Ketombe adalah sejenis eksim yang mengenai kulit kepala. Ditandai dengan terbentuknya sisik halus yang mudah lepas dari kulit.

4) Panu
 
Panu diakibatkan oleh jamur. Infeksi jamur dapat bermacam-macam, pengobatannya biasanya membutuhkan waktu lama, paling sedikit 30 hari dengan obat khusus jamur.

4. Indra Pengecap (Lidah)
 
Lidah mempunyai reseptor khusus yang ber kaitan dengan rangsangan kimia. Lidah merupa kan organ yang tersusun dari otot. Permukaan lidah dilapisi dengan lapisan  epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir dan reseptor pengecap berupa tunas pengecap. Tunas pengecap terdiri atas sekelompok sel sensori yang mempunyai tonjolan seperti rambut.

Permukaan atas lidah penuh dengan tonjolan ( papila). Tonjolan itu dapat dikelompokkan menjadi tiga macam bentuk, yaitu bentuk benang, bentuk dataran yang dikelilingi parit-parit, dan bentuk jamur. Tunas pengecap terdapat pada parit-parit pa pila bentuk dataran, di bagian samping dari papila berbentuk jamur, dan di permukaan papila berbentuk benang.





















Gangguan dan penyakit pada lidah Penyakit yang dapat menyerang lidah misalnya  kanker. Penyebab kanker belum diketahui dengan pasti. Namun terdapat beberapa faktor yang diduga menyebabkan kanker lidah, yaitu merokok dan minum-minuman beralkohol terlalu banyak.

5. Indra Pembau (Hidung)

Indra pembau berupa  kemoreseptor yang terdapat di permukaan dalam hidung, yaitu pada lapisan lendir bagian atas. Reseptor pencium tidak bergerombol seperti tunas pengecap. 

Epitelium pembau mengandung 20 juta sel-sel olfaktori yang khusus dengan akson-akson yangtegak sebagai serabut-serabut saraf pembau. Diakhir setiap sel pembau pada permukaan epitelium mengandung beberapa rambut-rambut pembauyang bereaksi terhadap bahan kimia bau-bauan di udara. 













Tidak ada komentar:

Posting Komentar