Sabtu, 05 November 2022

BAB 4 Sistem Sirkulasi - Biologi Kelas XI











Pada waktu bagian tubuh kita terluka, maka bagian yang terluka akan mengeluarkan darah. Mengapa? Karena seluruh tubuh kita dialiri oleh darah yang dipompa dari  jantung kita. Oleh sebab itu, jika ada seseorang yang mengalami kecelakaan dan mengeluarkan banyak darah, harus segera ditolong dengan  transfusi darah. Transfusi darah adalah proses pemasukan darah/pemberian darah bagi seseorang yang sudah banyak kehilangan darah. Sistem peredaran darah dan sistem peredaran getah bening merupakan satu kesatuan dalam sistem sirkulasi atau transportasi.

 Dinamakan sistem transportasi karena darah berfungsi mengangkut zat-zat makanan dan mengedarkan gas-gas pernapasan ke seluruh tubuh. Sistem peredaran getah bening juga berfungsi untuk mengangkut lemak. Getah bening juga mengandung sel-sel darah putih yang dapat membunuh bibit penyakit yang masuk atau disebut sistem kekebalan tubuh. Sebagai manusia, sudah sepantasnya kita bersyukur telah diberi Tuhan darah. Nah, agar kalian lebih jelas memahami mengenai sistem sirkulasi, kita akan membahasnya dalam bab ini. Kalian juga akan mempelajari berbagai kelainan atau penyakit yang berhubungan dengan sistem sirkulasi.

A. Organ Penyusun Sistem Peredaran Darah

Darah mengalir ke seluruh tubuh melalui sistem peredaran darah.  Agar darah dapat mengalir ke seluruh tubuh, maka perlu didukung oleh alat-alat peredaran darah, yaitu jantung dan  pembuluh darah.  Darah selalu beredar di dalam pembuluh darah yaitu  pembuluh nadi dan  pembuluh balik sehingga disebut dengan peredaran tertutup.  

1. Darah

Darah berbentuk cairan yang berwarna merah dan agak kental. Darah mengalir di seluruh tubuh kita, dan berhubungan langsung dengan sel-sel di dalam tubuh kita. Darah terbentuk dari beberapa komponen, yaitu  plasma darah,  sel darah merah,  sel darah putih, dan keping darah. 

a. Komposisi darah

1) Plasma darah

Plasma darah merupakan komponen terbesar dalam darah, karena lebih dari separuh darah mengandung plasma darah. Hampir 90% bagian dari plasma darah adalah air. Plasma darah berfungsi untuk mengangkut sari makanan ke sel-sel serta membawa sisa pembakaran dari sel ke tempat pembuangan. Fungsi lainnya adalah menghasilkan zat kekebalan tubuh terhadap penyakit atau zat  antibodi.

Plasma darah terdiri atas air dan  protein darah (4%  albumin, 2,7%  globulin, dan 0,3%  brinogen). Cairan yang tidak mengandung unsur brinogen disebut  serum darah. Protein dalam serum inilah yang bertindak sebagai antibodi terhadap adanya benda asing ( antigen). Zat antibodi adalah senyawa gama globulin yang terdapat dalam plasma darah dan berfungsi dalam sistem kekebalan tubuh. Pengetahuan tentang sistem kekebalan tubuh akan kalian pelajari nanti.

Komposisi Kimia Plasma Darah

Komponen; H2O 90%, Garam organik <1%, protein 7%, Bahan lainnya 2%

2) Sel darah merah ( eritrosit)

Sel darah merah merupakan bagian utama dari sel darah. Jumlah pada pria dewasa sekitar 5 juta sel/cc darah dan pada wanita sekitar 4 juta sel/ccdarah. Jumlah eritrosit bervariasi tergantung pada jenis kelamin dan usia. Eritrosit berbentuk cakram bikonkaf, berdiameter kira-kira 8 m, dan tidak mempunyai  nukleus. Warna merah disebabkan oleh hemoglobin (Hb) yang berwarna merah tua. Hemoglobin berfungsi untuk mengikat  oksigen. Setiap hemoglobin terdiri atas protein yang disebut globin dan  pigmen non protein yang disebut heme. Setiap heme berikatan dengan rantai  polipeptida yang mengandung besi (Fe). Kadar 1 Hb inilah yang dijadikan patokan dalam menentukan penyakit  anemia. 

Fungsi utama hemoglobin adalah mengangkut oksigen dari paru-paru membentuk  oksihemoglobin yang beredar ke seluruh jaringan-jaringan tubuh. Jika kadar oksigen dalam jaringan tubuh lebih  rendah daripada dalam paru-paru maka  oksihemoglobin dibebaskan dan oksigen digunakan dalam proses metabolisme sel. Hemoglobin juga penting dalam pengangkutan karbon dioksida dari jaringan ke paru-paru.  Selain itu, hemoglobin berperan dalam menjaga keseimbangan asam basa (penyangga asam basa).









Pembentukan eritrosit disebut juga  eritropoeisis yang terjadi di sumsum tulang dan diatur oleh hormon glikoprotein yang disebut  eritropoietin. Eritrosit berusia sekitar 120 hari. Sel yang telah tua dihancurkan di  limpa atau  hati, dan sumsum merah pada  tulang pipih. Sel darah merah yang sudah mati dihancurkan di dalam hati. Hemoglobin dirombak kemudian dijadikan pigmen  bilirubin ( pigmen empedu) yang berwarna kehijauan. Pigmen empedu diekskresikan oleh hati ke dalam empedu.  Zat besi dari  hemoglobin tidak diekskresikan tetapi digunakan kembali untuk membuat eritrosit baru.

3) Sel darah putih ( leukosit)

Sel darah putih bentuknya tidak tetap. Sel darah putih dibuat di sumsum merah, dan kelenjar limpa. Jumlah sel pada orang dewasa berkisar antara 6000 - 9000 sel/cc darah.  Leukosit berumur 12 hari. Fungsi utama dari sel tersebut adalah untuk fagosit pemakan) bibit penyakit/benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Fungsi fagosit sel darah tersebut terkadang harus mencapai benda asing/kuman jauh diluar pembuluh darah. Jumlah sel tersebut bergantung dari bibit penyakit/benda asing yang masuk tubuh. Kemampuan leukosit untuk menembus dinding pembuluh darah ( kapiler) untuk mencapai daerah tertentu disebut  diapedesis. Peningkatan jumlah leukosit merupakan petunjuk adanya infeksi, misalnya radang paru-paru.








Leukosit memiliki satu nukleus, bening (tidak berwarna), dan gerakannya mirip dengan Amoeba disebut gerak  amuboid. Perhatikan gambar Jumlah leukosit di dalam darah dapat berkurang atau bertambah. Berkurangnya jumlah leukosit sampai di bawah 6.000 sel/cc darah disebut  leukopeni. Sedangkan bertambahnya jumlah leukosit melebihi normal di atas 9.000 sel/cc darah disebut leukositosis. Leukosit dibagi menjadi:

  • Granulosit: leukosit yang di dalam sitoplasmanya memiliki butir-butir kasar ( granula). Jenisnya adalah  eosinol, basol, dan netrol.













  1. Eosinol mengandung granula berwarna merah (warna  eosin) disebut juga  asidol. Berfungsi pada reaksi alergi (terutama infeksi cacing).
  2. Basofil mengandung granula berwarna biru (warna basa). Berfungsi pada reaksi alergi.
  3. Neutro l (ada dua jenis sel yaitu neutrol batang dan neutrofil segmen). Disebut juga sebagai sel-sel PMN (Poly Morpho Nuclear). Berfungsi sebagai  fagosit.
  •  Agranulosit: leukosit yang sitoplasmanya tidak memiliki granula. Jenisnya adalah limfosit dan monosit.
  1. Limfosit (ada dua jenis sel yaitu sel T dan sel B). Keduanya berfungsi untuk menyelenggarakan imunitas (kekebalan) tubuh. Limfosit yang tetap berada di sumsum tulang berkembang menjadi sel B (imunitas humoral), sedangkan limfosit yang berasal dari sumsum tulang dan pindah ke timus berkembang menjadi sel T (imunitas seluler). 
  2. Monosit merupakan leukosit dengan ukuran paling besar.  Monosit dapat berpindah dari darah ke jaringan. Di dalam jaringan, monosit membesar dan bersifat fagosit menjadi makrofag. Makrofag bersama dengan neutrol merupakan leukosit fagosit utama, paling efektif, dan berumur panjang.
Dari kelima jenis leukosit tersebut,  neutrol merupakan sel-sel yang paling banyak menyusun leukosit. 

4)  Keping darah ( trombosit) 

Bentuk keping darah tidak teratur dan tidak  mempunyai inti. Diproduksi pada sumsum merah, serta berperan penting pada proses pembekuan darah. Trombosit disebut juga sel darah pembeku. Jumlah sel pada orang dewasa sekitar 200.000 - 500.000 sel/cc. Di dalam trombosit terdapat banyak sekali faktor pembeku (hemostasis) antara lain adalah Faktor VIII (Anti Haemophilic Factor). Jika seseorang secara genetis trombositnya tidak mengandung faktor tersebut, maka orang tersebut menderita  Hemofili.
















b. Proses pembekuan darah

Jika suatu jaringan tubuh terluka maka trombosit pada permukaan yang luka akan pecah dan mengeluarkan  enzim  trombokinase (tromboplastin). Enzim ini akan mengubah  protrombin menjadi trobin dengan bantuan ion kalsium dan  vitamin K. Protrombin merupakan protein yang tidak stabil yang dibentuk di hati dan  dengan mudah dapat pecah menjadi senyawa-senyawa yang lebih kecil, salah satunya adalah trombin. Selanjutnya, trombin  mengubah  brinogen (larut dalam plasma darah) menjadi brin (tidak larut dalam plasma darah) yang berbentuk benang-benang halus.  Benang-benang halus ini menjerat sel-sel darah merah dan membentuk gumpalan sehingga darah membeku.  Jika luka seseorang hanya di permukan  otot, biasanya darah cepat membeku.  Tetapi, bila luka lebih dalam, diperlukan waktu yang lebih lama agar darah membeku.

c. Golongan darah

Darah dibagi menjadi beberapa golongan ber-tipe  antigen yang terdapat di dalam sel.  Karl Landsteiner (1868–1943) mengelompokkan golongan darah manusia berdasarkan ada tidaknya aglutinogen, yaitu golongan darah A, B, AB, dan O.
  1. Golongan darah A, jika  eritrosit mengandung aglutinogen A dan aglutinin dalam plasma darah.
  2. Golongan darah B, jika eritrosit mengandung aglutinogen B dan aglutinin dalam plasma darah.
  3. Golongan darah AB, jika  eritrosit mengandung aglutinogen A dan B, dan dalam plasma darah tidak mengandung aglutinin.
  4. Golongan darah O, jika eritrosit tidak mengandung aglutinogen A dan B, dan plasma darah memiliki  aglutinin  a dan b. Golongan Darah dan Unsur Pokok Aglutinogen dan Aglutinin.

Golongan Darah

Aglutinogen

Aglutinin

A

A

b

B

B

a

AB

A dan B

-

O

-

a dan b


Transfusi darah adalah pemberian darah seseorang kepada orang lain. Orang yang berperan sebagai pemberi darah disebut donor dan yang menerima darah disebut  resipien. Sel darah yang diberikan kepada resipien merupakan senyawa protein. Bila senyawa  protein tidak sesuai dengan golongan darah resipien, maka darah resipien akan menolak darah donor. Penolakan tersebut ditandai dengan penggumpalan darah ( aglutinasi) yang dapat membahayakan jiwa resipien. Jadi donor perlu memerhatikan jenis aglutinogen di dalam eritrosit, sedangkan resipien perlu memerhatikan jenis aglutinin dalam  plasma darah. Aglutinasi Sel-Sel dari Berbagai Golongan Darah dengan Aglutinin anti A dan  anti B.

Golongan Darah

Aglutinogen Anti A

Aglutinin Anti B

A

+

-

B

-

+

AB

+

+

O

-

-


Aglutinin α akan menggumpalkan darah yang mengandung aglutinogen A, dan aglutinin β akan menggumpalkan darah yang mengandung aglu-tinogen B.  Bila seseorang yang bergolongan darah A mentransfusikan darahnya kepada seseorang yang bergolongan darah B maka akan terjadi penggumpalan. Hal ini disebabkan karena resipien yang bergolongan darah B memiliki aglutinin α. Aglutinin merupakan zat anti A (anti aglutinogen A). Padahal aglutinogen A dimiliki oleh donor yang bergolongan darah A, sehingga aglutinin  resipien akan menggumpalkan aglutinogen A donor. Jadi, jika aglutinogen dan aglutinin α  yang sesuai bercampur maka terjadi reaksi aglutinasi.

Golongan Darah O merupakan donor universal, karena golongan darah O dapat memberikan darahnya pada semua jenis golongan darah yang lain. Sedangkan golongan darah AB merupakan resipien universal karena golongan darah AB dapat menerima darah dari semua jenis golongan darah yang lain.

Transfusi darah yang terbaik adalah tranfusi dari golongan darah yang sejenis. Jika transfusi dilakukan dengan jenis golongan darah yang berbeda, meskipun itu memungkinkan, misalnya golongan darah O ditransfusikan ke golongan darah A, B, atau AB masih mungkin terjadi penggumpalan meskipun sedikit. 

Alasan terbanyak dilakukan transfusi darah adalah karena penurunan volume darah.  Transfusi juga sering digunakan untuk mengobati anemia atau untuk memberi resipien beberapa unsur lain dari darah misalnya orang yang menderita demam berdarah membutuhkan trombosit karena turunnya jumlah trombosit.

Sistem golongan darah yang lain adalah sistem  rhesus yang dikemukakan oleh  Landsteiner. Nama rhesus diambil dari sejenis kera Macacca rhesus di India. Prinsipnya adalah terdapatnya antibodi terhadap antigen D (anti D). Antigen D bersifat sangat antigenik dibandingkan dengan antigen Rh lainnya. Oleh karena itu, orang yang mempunyai antigen ini dikatakan Rh positif, sebaliknya orang yang tidak memiliki antigen D dikatakan Rh negatif (diturunkan secara genetis, Rh+ dominan terhadap Rh-). 

Eritroblastosis fetalis adalah kelainan pada bayi di mana telah terjadi ketidaksesuaian faktor rhesus (bayi Rh+ dan ibu Rh–). Gejala penyakit ini ditemukan oleh  Levine. Pertolongan pada bayi tersebut adalah dengan cara transfusi eksanguinasi (exchange transfussion). 

Sekitar 99% penduduk Benua Asia memiliki faktor Rh positif, sedangkan 85% dari seluruh bangsa berkulit putih memiliki Rh negatif. Dengan demikian, sebaiknya sepasang suami istri harus memiliki jenis faktor Rh yang sama, yaitu sama sama negatif atau sama-sama positif demi keselamatan keturunannya. Seorang ibu dengan Rh negatif yang mengandung bayi Rh positif yang didapat dari ayahnya, akan membentuk zat antibodi untuk melawan Rh si bayi jika darah si bayi sempat bercampur dengan darah si ibu sewaktu mengandung. Jika kemudian si ibu yang sama mengandung bayi kedua dengan Rh positif, maka antibodi Rh positif si ibu akan membunuh sel-sel darah merah bayi yang dikandungnya. Dengan demikian, sangat kecil kemungkinan bagi si ibu untuk melahirkan bayi kedua itu dalam keadaan hidup. Hal ini dapat dicegah dengan menyuntikkan antibodi Rh positif ke tubuh si ibu sesaat setelah melahirkan anak pertama. Antibodi ini akan menghancurkan darah Rh positif si bayi yang sempat masuk.  Sekali sel-sel Rh positif ini dimusnahkan pembentukannya, antibodi Rh positif oleh tubuh si ibu selanjutnya dapat dicegah. Akan tetapi, jika sebelumnya tubuh si ibu telah sempat membentuk antibodi Rh positif, akan lebih baik jika si ibu tidak hamil lagi. Tindak lanjut di samping sistem ABO dan sistem Rh, penggolongan darah juga dapat dilakukan dengan sistem MN. 

2.  Alat Peredaran Darah 

Fungsi darah dalam metabolisme tubuh kita antara lain sebagai alat  transportasi/pengangkut/pengedarsari makanan, oksigen, karbon dioksida, sampah dan air, termoregulasi (pengatur suhu tubuh), imunologi (mengan dung antibodi tubuh), serta homeostasis (mengatur keseimbangan zat, pH regulator). Darah didukung berbagai alat yang disebut alat peredaran darah untuk  melakukan tugas-tugasnya.

a. Jantung

Jantung terletak di rongga dada sebelah kiri dan terdiri atas tiga lapisan, yaitu perikardium (lapisan luar),  miokardium (lapisan tengah/otot jantung),dan  endokardium (lapisan dalam). Jantung berfungsi sebagai alat pemompa darah. Oleh karena itu, jantung mempunyai  otot yang kuat. Jantung juga merupakan pusat peredaran darah pada tubuh kita, karena dari jantunglah darah dialirkan ke seluruh bagian tubuh. 

















Ruang jantung manusia terdiri atas empat ruang, yaitu: serambi kiri (atrium sinister), serambi kanan ( atrium dekster), bilik kiri ( ventrikel sinister), dan bilik kanan (ventrikel dekster).  Jantung manusia pada saat masih janin mempunyai lubang yang disebut foramen oval.  Lubang ini terletak di antara serambi kiri dan serambi kanan.

Antara serambi kiri dengan bilik kiri terdapat katup dua daun ( valvula bicuspidalis), yang berfungsi agar darah dari bilik kiri tidak mengalir kembali ke serambi kiri.  Antara serambi kanan dengan bilik kanan dihubungkan katup tiga daun ( valvula tricuspidalis). Fungsi katup adalah menjaga agar darah dari bilik kanan tidak mengalir kembali ke serambi kanan. Jantung mendapat makanan (oksigenasi) melalui pembuluh arteri koronaria.

Dinding jantung bagian bilik memiliki otot yang lebih tebal dibandingkan dengan dinding jantung bagian serambi.  Hal ini disebabkan kerja bilik jantung lebih berat, yaitu memompa darah ke seluruh tubuh. 

Jantung bekerja sangat teratur, yaitu dengan mengembang dan mengempis. Hal ini terjadi karena ada otot-otot jantung yang mengendur ( relaksasi) dan berkerut ( kontraksi). Cara kerja jantung adalah sebagi berikut:

  • Darah dari paru-paru yang banyak mengandung oksigen masuk ke dalam serambi kiri. Dari serambi kiri darah diteruskan ke bilik kiri. Selanjutnya darah di bilik kiri dipompa keluar dari jantung menuju ke seluruh tubuh, membawa oksigen.

  • Setelah  oksigen digunakan untuk proses pembakaran di dalam sel-sel tubuh, darah kembali ke jantung dengan membawa karbondioksida dan air.
  •  Darah dari seluruh tubuh masuk ke serambi kanan. Dari serambi kanan darah masuk ke bilik kanan. Selanjutnya dari bilik kanan, darah dipompa keluar dari jantung menuju ke paru-paru untuk melepas karbon dioksida dan mengambil oksigen.
Gerakan jantung disebut denyut jantung. Denyut jantung terjadi jika  otot jantung berkontraksi.  Denyut jantung dapat kita rasakan pada pembuluh nadi (arteri) di dekat permukaan kulit, seperti di pergelangan tangan dan leher. Denyut jantung secara normal berkisar tujuh puluh kali per menit. Denyut jantung pada setiap orang berbeda-beda tergantung pada kondisi setiap orang. Usia, berat badan, jenis kelamin, kesehatan, dan kegiatan berpengaruh terhadap denyut jantung seseorang.  Bayi memiliki denyut jantung yang lebih cepat dibanding orang dewasa dalam keadaan normal. Tekanan darah biasanya menunjukkan tekanan dalam arteri utama. 

Tekanan darah pada saat jantung mengembang dan darah mengalir ke dalam jantung disebut  diastol. Sebaliknya, tekanan darah saat otot jantung berkontraksi, sehingga jantung mengempis dan darah dipompa keluar dari jantung disebut sistol. Tekanan darah dapat diukur dengan menggunakan tensimeter atau  spignomonometer. Tekanan darah pada orang normal antara 120 mm Hg pada sistol dan 80 mm Hg pada diastol (120/80 mm Hg). Dengan mengetahui tekanan darah seseorang, kita mengetahui kekuatan jantung ketika memompa darah.

b. Pembuluh darah

Pembuluh darah adalah suatu saluran yang berfungsi untuk mengalirkan darah dari jantung ke seluruh tubuh dan dari seluruh tubuh kembali ke jantung. Berdasarkan fungsinya, pembuluh darah terdiri atas: pembuluh nadi (arteri), pembuluh balik (vena), dan pembuluh  kapiler.

1) Pembuluh nadi (arteri)

Pembuluh nadi (arteri) adalah pembuluh yang membawa darah keluar dari jantung ke jaringan. Dinding pembuluh nadi tebal, kuat dan elastis. Lapisan paling dalam dari arteri adalah endotelium yang dikelilingi oleh  otot polos. Letaknya agak dalam, tersembunyi dari permukaan tubuh.  Denyutnya terasa, misalnya di pergelangan tangan atau di leher, dan mempunyai satu katup dekat  jantung. Katup berfungsi menjaga agar darah tidak mengalir kembali ke jantung. Darah yang keluar dari jantung melalui dua  pembuluh nadi. Pembuluh nadi pertama, keluar dari bilik kiri ( ventrikel kiri). Pembuluh nadi ini membawa darah yang kaya  oksigen untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Pembuluh darah ini disebut nadi besar ( aorta). Pembuluh nadi kedua, keluar dari bilik kanan (ventrikel kanan). Pembuluh nadi ini membawa darah dari seluruh tubuhyang kaya karbon dioksida menuju ke paru-paru. Pembuluh  darah ini disebut pembuluh nadi  paru-paru.

2) Pembuluh balik ( vena)

Pembuluh balik (vena) adalah pembuluh darah yang membawa darah dari kapiler menuju jantung. Letaknya dekat permukaan kulit dan tampak kebiru-biruan. Dinding pembuluhnya tipis dan tidak elastis. Lapisan dalamnya bersifat licin karena dilapisi endotelium yang dikelilingi oleh otot polos. Denyut pembuluh balik tidak terasa. Pembuluh balik mempunyai katup di sepanjang pembuluhnya. Katup ini berfungsi agar aliran darah berlangsung satu arah, yaitu ke jantung. Selain itu, katup ini juga menjaga agar darah tetap mengalir karena tidak ada pompa pada aliran darah di pembuluh darah balik. Pada manusia, pembuluh balik dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

a) Pembuluh balik paru-paru

Pembuluh balik paru-paru ( vena pulmonalis) adalah pembuluh balik yang membawa darah dari paru-paru ke serambi kiri (atrium kiri) jantung. Pembuluh balik paru-paru membawa darah yang kaya oksigen.

b) Pembuluh balik tubuh

Pembuluh balik tubuh berukuran besar, terdiri atas pembuluh balik atas (vena kava superior) dan pembuluh balik bawah ( vena kava inferior). Pembuluh balik atas membawa darah dari tubuh bagian atas, misalnya kepala dan lengan. Pembuluh balik bawah membawa darah dari tubuh bagian bawah. Kedua pembuluh balik tersebut bermuara ke serambi kanan (atrium kanan) jantung dan membawa darah yang kaya karbon ) Pembuluh kapiler Pembuluh  kapiler merupakan pembuluh darah yang sangat halus dan langsung berhubungan dengan sel-sel jaringan tubuh. Pembuluh kapiler menghubungkan ujung pembuluh nadi yang terkecil dan ujung pembuluh balik yang terkecil. Pembuluh kapiler sangat halus dan tipis karena hanya terdiri dari satu lapis sel. Lebar pembuluh kapiler ini hanya selebar 1 sel darah merah sehingga sel darah merah beriringan dalam pembuluh kapiler. Di dalam pembuluh kapiler inilah terjadi pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Selama jantung masih bekerja, darah kita akan selalu beredar di sepanjang tubuh.  Peredaran darah tersebut merupakan peredaran darah tertutup, karena darah manusia selalu berada dalam pembuluh, tidak pernah langsung masuk ke dalam jaringan tubuh.

3) Pembuluh kapiler

Pembuluh  kapiler merupakan pembuluh darah yang sangat halus dan langsung berhubungan dengan sel-sel jaringan tubuh. Pembuluh kapiler menghubungkan ujung pembuluh nadi yang terkecil dan ujung pembuluh balik yang terkecil. Pembuluh kapiler sangat halus dan tipis karena hanya terdiri dari satu lapis sel. Lebar pembuluh kapiler ini hanya selebar 1 sel darah merah sehingga sel darah merah beriringan dalam pembuluh kapiler. Di dalam  pembuluh kapiler inilah terjadi pertukaran oksigen dan karbon dioksida.

Selama jantung masih bekerja, darah kita akan selalu beredar di sepanjang tubuh. Peredaran darah tersebut merupakan peredaran darah tertutup, karena darah manusia selalu berada dalam pembuluh, tidak pernah langsung masuk ke dalam jaringan tubuh.

















B. Sistem Peredaran Darah Manusia

Peredaran darah pada manusia disebut peredaran darah ganda atau peredaran darah rangkap, karena setiap satu kali beredar ke seluruh tubuh darah melewati  jantung sebanyak dua kali. Peredaran darah rangkap atau peredaran darah ganda terdiri atas peredaran darah besar dan peredaran darah kecil.

1. Peredaran Darah Besar (Peredaran Darah Sistemik)

Peredaran darah besar adalah peredaran darah dari jantung ke seluruh tubuh, kecuali paru-paru. Peredaran darah besar dimulai dari bilik kiri jantung menuju ke tubuh bagian atas dan bagian bawah dengan membawa oksigen ke seluruh sel-sel tubuh. Selanjutnya, darah masuk kembali ke jantung melalui serambi kanan dengan membawa karbon dioksida. Pada sistem peredaran darah besar, ada suatu sistem peredaran darah yang disebut sistem porta hepatica. Dalam sistem porta ini, sebelum darah kembali ke jantung darah terlebih dahulu masuk ke dalam hati untuk dibersihkan dari racun-racun yang diserap oleh usus halus. Selanjutnya, darah kembali ke jantung melalui  pembuluh balik (vena). 

2. Peredaran Darah Kecil (Peredaran Darah Pulmonalis)

Peredaran darah kecil adalah peredaran darah dari jantung ke  paru-paru dan kembali ke  jantung. Peredaran darah kecil dimulai dari bilik kanan jantung, mengangkut karbon dioksida menuju ke paru-paru kanan dan paru-paru kiri. Itulah sebabnya darah yang berasal dari paru-paru kanan dan kiri kaya akan oksigen. Selanjutnya darah kembali ke jantung melalui serambi kiri.















C. Sistem Limfatik atau Peredaran Getah Bening

Sistem limfatik atau peredaran getah bening merupakan suatu cara di mana cairan dapat mengalir dari jaringan ke dalam darah. Sistem limfatik dapat mengangkut protein dan zat-zat berpartikel besar keluar dari jaringan yang tidak dapat diabsorpsi langsung ke dalam  kapiler darah. Peredaran getah bening merupakan peredaran terbuka, karena selama peredarannya getah bening tidak selalu berada di dalam pembuluh.

1. Cairan limfa (Getah Bening)

Sel tubuh selalu dikelilingi cairan yang menjaga kelembapan sel, mensuplai makanan, dan mengumpulkan sisa metabolisme. Cairan ini berasal dari plasma darah yang keluar dari pembuluh darah ke jaringan tubuh. Cairan ini kemudian masuk ke cabang-cabang halus pembuluh limfa yang terbuka ujungnya.

Cairan tubuh yang masuk ke dalam pembuluh kapiler limfa disebut cairan limfa atau getah bening. Cairan ini berwarna kekuningan dan mengandung leukosit yang berfungsi untuk membunuh kuman-kuman penyakit yang masuk ke dalam tubuh.

2. Pembuluh Limfa dan Kelenjar Limfa
 
Pembuluh limfa terletak di sela-sela otot. Pembuluh ini bermula dari pembuluh besar kemudian bercabang-cabang menjadi cabang yang halus. Cabang-cabang yang halus bagian ujungnya terbuka. Melalui ujung pembuluh yang terbuka ini, cairan jaringan tubuh masuk ke dalam pembuluh limfa. Pembuluh limfa dibedakan atas pembuluh limfa kanan dan pembuluh limfa dada.

a. Pembuluh limfa kanan (ductus limfaticus dexter)

Pembuluh limfa kanan merupakan kumpulan pembuluh limfa yang berasal dari kepala, leher, dada, jantung, paru-paru, dan lengan bagian kanan. Pembuluh ini bermuara di pembuluh balik di bawah tulang selangka kanan.

b. Pembuluh limfa dada (ductus toraxicus)
 
Pembuluh limfa dada merupakan pembuluh limfa yang berasal dari bagian kiri tubuh, saluran pencernaan, dan sisi kanan bagian bawah tubuh. Pembuluh ini bermuara di pembuluh balik di bawah tulang selangka kiri. Di sepanjang pembuluh limfa terdapat beberapa kelenjar limfa, terutama pada pangkal paha, ketiak, dan leher. Kelenjar limfa menghasilkan sel darah putih dan berfungsi untuk mencegah infeksi lebih lanjut. Pada saat memerangi infeksi, kelenjar limfa sering membengkak. 

Peredaran limfa dimulai ketika cairan jaringan tubuh masuk ke ujung pembuluh limfa yang terbuka dan berakhir pada pembuluh balik (vena) di bawah tulang selangka (dekat leher). Oleh karena itu, peredaran limfa disebut peredaran terbuka. Pembuluh limfa hanya berupa vena, dan tidak ada arterinya. Peredaran limfa hanya satu arah, yaitu dari jaringan tubuh ke vena di sekitar leher. Dalam peredaran limfa, aliran cairan limfa hanya ke satu arah karena di sepanjang pembuluh limfa terdapat katup-katup.

3. Organ-Organ Limfa

a. Limpa

Limpa terletak di dalam rongga perut di belakang lambung. Limpa berfungsi antara lain sebagai:
  1. tempat pembentukan sel darah putih (leukosit) dan antibodi,
  2. tempat membunuh kuman penyakit
  3. tempat pembongkaran sel darah merah yang sudah mati, dan
  4. tempat cadangan sel darah. Jika ada bagian tubuh yang kekurangan darah, limfa akan mengeluarkan cadangannya.
b. Tonsil
 
Tonsil terletak di bagian belakang rongga mulut sebelah kanan dan kiri serta di rongga hidung bagian belakang. Tonsil di rongga mulut disebut amandel sedangkan di rongga hidung disebut polip. Tonsil berfungsi sebagai pertahanan tubuh dari kuman yang masuk ke dalam mulut dan hidung. Bila terjadi  infeksi,amandel,dan polip meradang dan membengkak. Pembengkakan tonsil dapat mengganggu pernapasan sehingga harus dibuang dengan jalanoperasi.

c. Timus

Timus merupakan kelenjar yang sebagian besar terdiri atas jaringan limfa. Timus tersusun atas sel-sel epitel yang menyerupai  limfosit. Timus memproduksi hormon yang berfungsi untuk merangsang produksi limfosit dalam organ-organ limfa.

D. Sistem Kekebalan Tubuh.

Kuman penyakit seperti bakteri dan virus selalu berusaha memasuki tubuh manusia. Jika berhasil, mereka akan menginfeksi tubuh kita dan menyebabkan penyakit. Untungnya, tubuh manusia mempunyai kemampuan pertahanan untuk melawan berbagai macam kuman penyakit yang disebut dengan  kekebalan/imunitas. Bila ada kuman atau bakteri yang masuk, sel darah putih akan memburu dan menghancurkannya. Pada dasarnya di dalam tubuh dapat dijumpai dua macam kekebalan yang berhubungan erat satu sama lainnya, yaitu:

  1. Antibodi, merupakan  molekul globulin yang mampu menyerang agen penyakit.
  2. Pembentukan sel limfosit dalam jumlah besar yang secara khusus dirancang untuk menghancurkan benda asing. Kekebalan ini disebut kekebalan seluler. Tiap antibodi bersifat spesi k terhadap antigen dan reaksinya bermacammacam. Antibodi yang dapat menggumpalkan antigen disebut presipitin, antibodi yang dapat menguraikan antigen disebut lisin, dan antibodi yang dapat menawarkan racun disebut antitoksin. Antibodi bekerja melalui dua cara yang berbeda untuk mempertahankan tubuh terhadap penyebab penyakit, yaitu:
  •  dengan menyerang langsung penyebab penyakit tersebut
  • dengan mengaktifkan sistem komplemen yang kemudian akan merusak penyebab penyakit tersebut. 
Antibodi dapat melemahkan penyebab penyakit dengan salah satu cara berikut:
  • Aglutinasi, terbentuknya gumpalan-gumpalan yang terdiri atas struktur besar berupa antigen pada permukaannya.
  • Presipitasi, terbentuknya molekul yang besar antara antigen yang  larut, misalnya racun  tetanus dengan antibodi sehingga berubah menjadi tidak larut dan akan mengendap.
  • Netralisasi, antibodi yang bersifat antigenik akan menutupi tempat tempat yang toksik dari agen penyebab penyakit.
  • Lisis, beberapa antibodi yang bersifat antigenik yang sangat kuat kadang-kadang mampu langsung menyerang membran sel agen penyebab penyakit sehingga menyebabkan sel tersebut rusak. Kekebalan pada tubuh manusia terdiri atas kekebalan bawaan dan kekebalan buatan.
1. Kekebalan Bawaan

Kekebalan bawaan adalah kekebalan yang disebabkan oleh proses umum dan bukan disebabkan proses melawan organisme penyebab penyakit yang spesi k. Kekebalan bawaan meliputi beberapa mekanisme antara lain:

  • Fagositosis yang dilakukan oleh leukosit dan sel pada sistem makrofag jaringan terhadap bakteri serta penyebab penyakit lainnya.
  • Perusakan oleh asam yang disekresikan oleh  lambung dan enzim pencernaan terhadap organisme yang masuk ke dalam lambung.
  • Daya tahan kulit terhadap serangan organisme penyebab penyakit.
  • Adanya senyawa-senyawa kimia tertentu di dalam darah yang akan melekat pada organisme asing atau toksin dan akan menghancurkannya. 
Senyawa-senyawa tersebut adalah lisozim. Lisozim merupakan suatu polisakarida yang menyerang bakteri sehingga bakteri tersebut menjadi larut, polipeptida dasar yang akan bereaksi dengan mengaktifkan beberapa macam bakteri gram positif tertentu, dan kompleks komplemen yang terdiri atas kurang lebih 20 protein yang dapat diaktifkan dengan bermacam-macam cara untuk merusak bakteri.

2. Kekebalan buatan

Sebagian besar dari kekebalan disebabkan oleh suatu  sistem imun khusus. Sistem imun tersebut membentuk antibodi atau  limfosit yang diaktifkan dan akan menghancurkan organisme atau toksin tertentu. Kekebalan semacam ini disebut kekebalan buatan. Kekebalan buatan dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi atau vaksin. Imunisasi diartikan pengebalan (terhadap penyakit). Kalau dalam istilah kesehatan imunisasi diartikan pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Biasanya imunisasi bisa diberikan dengan cara disuntikkan maupun diteteskan pada mulut anak balita (bawah lima tahun). 
 
Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi tubuh terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak. 

Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius,  sekarang ini sudah jarang ditemukan. Kekebalan buatan sering dapat memberikan perlindungan yang hebat. Contohnya, kekebalan buatan dapat melindungi tubuh dari efek toksin tetanus sampai 100.000 kali dari dosis.  Toksin tetanus dapat menimbulkan kematian bila tidak ada kekebalan.

Adapun jenis-jenis imunisasi adalah sebagai berikut:

a. Imunisasi BCG 
  
Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan.  Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus calmette-guerrin hidup yang dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis. 

b. Imunisasi DPT
 
Imunisasi DPT adalah suatu  vaksin three in one yang melindungi tubuh terhadap difteri, pertusis, dan tetanus.Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal.  Pertusis (batuk rejan) adalah infeksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernapasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernapas, serta makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang, dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang.

c. Imunisasi DT

Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasil-kan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus. Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima imunisasi difteri dan tetanus.

d. Imunisasi TT 

Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif ter- hadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus.

e. Imunisasi campak

 Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur 9 bulan atau lebih.

f. Imunisasi MMR
 
Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak,  gondongan, dan  campak Jerman. Imunisasi ini disuntikkan sebanyak 2 kali. Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler, dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan bahkan kematian. Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala, dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah zakar sehingga terjadi kemandulan. Campak Jerman (Rubella) menyebabkan demam ringan, ruam kulit, dan pembengkakan kelenjar getah bening leher.  Rubella juga bisa menyebabkan pembengkakan otak atau gangguan perdarahan.

g. Imunisasi Hib

Imunisasi Hib membantu dalam mencegah infeksi oleh Haemophilus in uenza tipe b. Organisme ini bisa menyebabkan  meningitis,  pneumonia, dan infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak.

h. Imunisasi varisella
 
Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air. Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas.

i. Imunisasi HBV

Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian. 

j. Imunisasi pneumokokus konjugata
 
Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi darah).

E. Gangguan pada Sistem Peredaran Darah dan Kekebalan Tubuh

1. Gangguan pada Sistem Peredaran Darah

Kelainan dan  penyakit pada sistem peredaran darah sering kita jumpai pada seseorang. Kelainan dan penyakit tersebut dapat disebabkan oleh faktor keturunan (genetik), adanya kerusakan pada sistem  peredaran darah, dan faktor-faktor lain yang belum diketahui. Kelainan dan penyakit tersebut antara lain:

a. Anemia

Anemia sering disebut sebagai penyakit kurang darah. Kurang darah terjadi karena kandungan hemoglobin (Hb) dalam sel darah merah rendah atau berkurangnya sel darah merah. Berkurangnya kandungan Hb dapat disebabkan makanan yang kurang mengandung  zat besi. Berkurangnya sel darah merah sering terjadi pada penderita penyakit malaria. Hal ini karena  plasmodium sebagai penyebab penyakit  malaria memakan sel darah merah. Demikian pula penderita penyakit cacing tambang sering mengalami anemia. 

b. Talasemia
 
Talasemia merupakan penyakit yang diturunkan. Talasemia sering ter-dapat pada bayi dan anak-anak. Pada penderita talasemia, daya ikat sel darah merahnya terhadap  oksigen rendah karena kegagalan pembentukan  hemoglobin. Penderita talasemia berat membutuhkan transfusi darah setiap bulan.

c. Hemo li
 
Hemo li merupakan penyakit yang menyebabkan darah sukar membeku bila terjadi luka. Kelainan ini disebabkan oleh faktor keturunan (genetik). Kelainan tidak dapat diobati, tetapi dapat dicegah. Penderita harus menghindari terjadinya pendarahan agar darah tidak mengalir terus. 

d. Leukemia

Leukemia atau kanker darah adalah penyakit bertambahnya sel darah putih yang tidak terkendali. Beberapa gejala leukemia yaitu:
  1. Demam, kedinginan, dan gejala seperti  u.
  2. Badan lemah dan sakit kepala.
  3. Sering mengalami infeksi.
  4. Kehilangan berat badan.
  5. Berkeringat, terutama malam hari.
  6. Nyeri  tulang atau sendi.
Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab  leukemia. Namun, para peneliti menduga penyebab leukemia antara lain  radiasi energi tinggi, misalnya bom nuklir, bahan kimia benzena yang mengenai seseorang dalam jangka waktu lama, dan keadaan  genetik seseorang, misalnya penderita sindrom Down lebih banyak menderita  leukemia dibanding orang normal.

e. Hipertensi

Hipertensi disebabkan oleh tekanan darah yang tinggi di dalam arteri. Hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi bila nilai ambang tekanan sistolik antara 140 – 200 mmHg atau lebih dan nilai ambang tekanan ambang  diastolik antara 90 – 110 mmHg atau lebih. Beberapa penderita tidak menunjukkan gejala-gejala akibat tekanan darah tinggi. Namun, beberapa orang ada yang mengalami gejala-gejala, yaitu sakit kepala, napas pendek, dan penglihatan kabur. Penyebab  hipertensi berkaitan dengan umur, kegemukan, dan keturunan.

f. Koronariasis

Koronariasis merupakan penyempitan atau penyumbatan nadi tajuk (arteri koronari) pada jantung. Melalui nadi tajuk tersebut, jantung mendapat makan dan  oksigen. Nadi tajuk berukuran kecil sehingga bila tersumbat, denyut jantung dapat terganggu atau terhenti. Penderita yang terkena koronariasis akan merasakan sakit di bagian dada (jantung). Koronariasis disebabkan oleh terbentuknya gumpalan darah pada dinding dalam arteri koronaria. Gumpalan ini disebabkan oleh menumpuknya kolesterol di dalam dinding arteri. 

g. Varises
 
Varises merupakan pelebaran pembuluh balik (vena). Varises biasanya  terjadi di kaki terutama di bagian betis. Varises yang terdapat di bagian anus disebut  ambeien. Varises merupakan hal yang biasa terjadi dan tidak berbahaya.

Penyebab varises tidak diketahui secara keseluruhan. Dalam beberapa kasus, varises dapat disebabkan oleh pembengkakan pada vena. Varises tidak perlu diobati. Namun jika terjadi varises atau ambeien yang parah, dapat dilakukan operasi. 

h. Hemoroid/Wasir/Ambien

Hemoroid merupakan pelebaran pembuluh darah balik pada daerah anus. Wasir dapat disebabkan terlalu banyak duduk, kurang gerak, dan terlalu kuat mengejan, akibatnya aliran darah tidak lancar.

2. Gangguan dan Kelainan Sistem Kekebalan Tubuh

Penyakit dan Kelainan Sistem Imunitas.

a. Alergi

Alergi adalah respon yang hipersensitif terhadap antigen tertentu yang berasal dari lingkungan. Antigen yang memicu terjadinya reaksi alergi disebut dengan alergen. Alergi dapat disebabkan karena terkena jenis tumbuhan tertentu yang menyebabkan gatal. Reaksi alergi juga dapat timbul dalam diri seseorang setelah memakan jenis makanan tertentu, misalnya udang, tiram,umbi, atau buah-buahan tertentu. Terdapat dua macam kategori utama reaksi alergi, yaitu reaksi alergi cepat dan reaksi alergi yang tertunda. Reaksi alergi cepat, misalnya karena tersengat lebah, menghirup tepung sari, atau binatang kesayangan. Reaksi alergi cepat ini disebabkan oleh mekanisme kekebalan humoral, yaitu diproduksinya imunoglobulin E (IgE). Reaksi alergi yang kedua adalah reaksi alergi lambat atau hipersensitif tipe tertunda DTH (Delayed Type Hypersensitivity). Contoh DTH  ekstrim terjadi ketika makrofag tidak bisa dengan mudah menghancurkan substansi benda asing akibatnya sel T diaktifkan dan mendorong peradangan jaringan tubuh. 

b. Penolakan Transplantasi (Pencangkokan)

Di dalam dunia kedokteran kadang-kadang dilakukan tindakan penye-lamatan pasien dengan melakukan pencangkokan (transplantasi organ) untuk menggantikan suatu organ yang sudah mengalami disfungsi. Tetapi tindakan ini tidak mudah sebab bisa menimbulkan reaksi penolakan dari tubuh resipien terhadap organ donor yang diberikan kepadanya. Hal ini terjadi karena setiap individu mempunyai histon kompatibilitas mayor (MHC = major histon compatibility) yaitu sidik jari protein yang unik yang bertanggung jawab terhadap stimulasi penolakan pencangkokan jaringan dan organ.

c. Penurunan Kekebalan

Penyakit menurunnya kekebalan tubuh disebut dengan penyakit AIDS (Acquired Immunode ciency Syndrome). Penyakit ini disebabkan oleh virus HIV (Human Immunode ciency Virus). Virus ini merupakan virus yang paling berbahaya. Tidak seperti virus lainnya, mikroorganisme ini benar-benar menonaktifkan sistem pertahanan. Virus HIV menimbulkan kerusakan yang tak dapat diperbaiki pada tubuh manusia dengan menyebabkan runtuhnya sistem pertahanan. Keadaan ini membuat manusia sangat mudah diserang oleh segala jenis penyakit, yang akhirnya menyebabkan berbagai kondisi fatal.

Penyakit AIDS pernah diklaim sebagai penyakit sosial, karena awalnya diketahui penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual pada pasangan yang tidak resmi baik homoseksual maupun heteroseksual. Sebenarnya penularan virus HIV dapat terjadi dengan beberapa cara yaitu:
  1. hubungan seksual dengan penderita baik homoseksual maupun heteroseksual,
  2. transfusi darah dari donor penderita,
  3. penggunaan jarum suntik bekas dari penderita,
  4. penularan dari ibu hamil kepada anaknya.
  5. Penyakit Autoimunitas
Penyakit autoimunitas merupakan penyakit yang menyebabkan gagalnya antibodi membedakan antigen asing dengan antigen dari dalam tubuh sendiri. Akibatnya, bisa menyebabkan terjadinya perusakan zat-zat yang dianggap  sebagai antigen yang berada dalam tubuhnya sendiri. Penyakit autoimunitas terjadi karena sistem kekebalan kehilangan toleransinya terhadap diri sendiri dan melancarkan perlawanan terhadap molekul-molekul tertentu di dalam tubuh.

Beberapa penyakit yang tergolong autoimunitas antara lain, sebagai berikut

1. Eritematosus lupus sistemik (lupus)
 
Penyakit ini menyebabkan sistem kekebalan membangkitkan antibodi yang dikenal sebagai autoantibodi terhadap semua jenis molekul sendiri. Bahkan protein histon dan DNA yang dibebaskan oleh perombakan sel normal dalam tubuh juga dilawan. Ciri-ciri penyakit lupus antara lain: terjadinya ruam kulit, demam, artritis, dan kegagalan fungsi ginjal.

2)  Artritis reumatoid
 
Penyakit ini menyebabkan kerusakan dan peradangan yang sangat menyakitkan pada tulang rawan dan tulang-tulang pada persendian.

e. Multiple sclerosis (MS)
Penyakit ini banyak dijumpai di negara-negara maju. Pada penderita penyakit ini menyebabkan sel limfosit T bersifat reaktif terhadap mielin serta memasuki sistem saraf pusat dan merusak selubung mielin dari neuron. Akibatnya penderita akan mengalami gangguan abnormalitas neurologis yang serius.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar